Metode Berpikir Kritis Ala Filsafat
Filsafat merupakan sebuah term yang tidak menggambarkan prodi ilmu dikarenakan filsafat tidak pernah menjadi tetapi melahirkan ilmu. Jika filsafat sudah menjadi ilmu maka tidak akan ada ilmu, karena filsafat bagaikan ibu dan ilmu bagaikan anak. Lalu bapaknya siapa? Ah itu kan hanya perumpamaan saja..
The Inventors
Filsafat merupakan titik pijak awal bagi perkembangan pemikiran. Mengapa saya katakan begitu? Coba lihat kejadian berikut:
- Tahukah Anda bahwa pada tahun 1867 seorang Thomas Alva Edison pernah dipecat dari pekerjaannya gara-gara menumpahkan asam sulfat ke meja bossnya? Tetapi Ia juga yang memegang hak cipta sebanyak 1093 buah, dan dia pula lah yang mengatakan “Hell, there are no rules here — we’re trying to accomplish something new”
- Tahukah Anda bahwa pada waktu kecil seorang penemu psikologi analitis bernama Carl Gustav Jung pernah melihat orang keluar dari kamar ibunya dengan kepala terpisah dari badan dan melayang di udara? Dan dia pula yang merekomendasikan cara spiritual sebagai obat dalam menyembuhkan ketagihan terhadap alkohol.
Kejadian yang dialami kedua inventor di atas itu merupakan sejarah hidup yang menuntun para inventor menjadi orang besar. Alva Edison terus membuat sesuatu yang baru tanpa ada batasan, dan aturan. Jung menceritakan hidupnya dalam memories, dreams, reflections.
Masing-masing inventor memiliki cara berpikir kritis yang berbeda-beda. Dia berpikir bagaimana caranya, mengapa harus begitu, mengapa tidak begini, apa sebenarnya maksud alat ini, apa itu manusia, mengapa manusia begitu, apa yang ada sebelumnya sehingga bisa menjadi seperti itu, dan masih banyak rangkaian pertanyaan lain.
Sekarang bayangkan jika seorang manusia tidak pernah menanyakan pertanyaan tersebut semasa hidupnya, tidak akan ada perkembangan karena ia selalu menerima apa adanya. No TV, no mobile phone, no lamp, no wifi, and no brazzers. Manusia selalu memikirkan bagaimana caranya agar sesuatu dapat memudahkan hidup mereka, dengan itu mereka menciptakan alat-alat untuk kemudahan mereka, tidak hanya untuk digunakan sendiri tapi juga untuk kepentingan umat manusia dengan produksi massal.
Metode
Ada dua cara untuk memunculkan pikiran kritis atau berpikir kritis ala filsafat yaitu:
- Terus mempertanyakan apa yang ada dalam hidup ini dan mempertanyakan alasannya, contohnya: mengapa kita sekolah bukankah kita bisa pintar dengan membaca buku dan belajar di rumah? Karena di sekolah ada pembimbing yaitu guru. Tetapi bukankah di rumah juga ada pembimbing yaitu orang tua? Jawaban bervariasi dan jawaban itu dipertanyakan lagi, ya mungkin sampai yang ditanyakan itu kesal..
- Memikirkan dari satu hal yang umum dan menjabarkannya ke hal yang lebih khusus atau sebaliknya, contohnya: saya bisa merasakan sakit jika saya manusia, rasa sakit itu membuat saya tidak senang. Dipukul juga sakit, memukul orang lain membuat orang lain sakit, tentunya ia tidak senang maka jangan memukul orang lain. Baca juga filsafat moral Immanuel Kant
Pemikiran kritis ini tidak akan pernah berhenti seperti kata Franz Magnis-Suseno bahwa filsafat memang harus mencari jawaban-jawaban, tetapi jawaban-jawaban tidak pernah abadi karena itu filsafat tak pernah selesai dan tak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Menurut saya ini merupakan salah satu proses filsafat dalam membuat ilmu yang bersifat lebih sistematis dan tersegmentasi.
AUTHOR
aprillins # Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)


Artikel Sebelumnya


Selalu ada perubahan setiap saya mampir disini.
huahauha.. pemikiran kritis jgua tuh… eehueuehe
kalau membahas masalah filsafat aku langsung nyerah deh prill…
Iya nih,… blognya Henny koq hilang yah?
mudah dicerna nih
seseorang yang berpikir kritis selalu memiliki pertanyaan atas apa yang dia terima melalui panca indera. dari jawaban-jawaban tersebut akan bisa menciptakan ilmu baru lagi.