Maksim Menurut Immanuel Kant

Maksim adalah salah satu kata kunci dalam memahami filsafat moral Immanuel Kant, seorang filsuf kelahiran Prussia. Alasan pentingnya dalam memahami maksim adalah bahwa maksim menjadi dasar filsafat moral Immanuel Kant dalam membentuk perintah moral tak beralasan atau yang biasa disebut imperatif kategoris.

Maksim adalah prinsip subjektif dalam bertindak, sikap dasar hati orang dalam mengambil sikap-sikap dan tindakan konkret (Magnis-Suseno, 1997:146). Dapat dilihat dalam tiga kata pertama dalam definisi tersebut yaitu “maksim adalah prinsip”, tepat sekali maksim adalah prinsip! Lebih khusus lagi prinsip subjektif! Untuk memahami maksim secara lebih mudah maka maksim dapat dikaitkan dengan istilah berikut:

  • Prinsip Subjektif
  • Kehendak seseorang
  • Keinginan seorang pribadi
  • Pemikiran pribadi dalam menanggapi persoalan

Dikaitkan dengan filsafat moral Immanuel Kant bahwa maksim menjadi dasar dalam mempertimbangkan bagaimana suatu perbuatan b menjadi suatu kewajiban universal. Tentu saja pertimbangan ini bersifat alamiah, alamiah bagaimana? Silakan simak ilustrasi berikut:

Anda melihat seseorang yang tidak Anda kenal diserang penjahat, mana yang terbaik menurut Anda menolongnya atau membiarkannya? Meski pun Anda tidak dapat menolongnya tetapi pasti Anda menjawab bagaimana pun juga “saya mau menolongnya”, dan itu memang akan menjadi tindakan yang baik jika Anda menolongnya.

Sekarang bayangkan kembali, jika orang lain (A) menjadi diri Anda yang melihat orang diserang tadi, apakah si A itu juga akan berpikiran seperti itu? Kemungkinan besar si A ingin menolongnya. Begitu juga dengan orang lain.

Lalu bayangkan jika Anda berpikiran bahwa Anda yang diserang penjahat, lalu orang lain tidak berpikir bahwa mereka tidak mau menolong Anda. Apakah itu baik untuk Anda? Dan bagaimana jika orang lain (A) itu ditempatkan pada posisi Anda, apakah A merasa bahwa tidak ditolong itu baik untuk A? Tentu saja tidak.

Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa, adalah perbuatan tidak bermoral jika tidak ada kewajiban untuk menolong orang lain. Coba pikir lebih jauh bagaimana jika tidak ada kewajiban untuk saling tolong menolong menjadi sebuah prinsip masing-masing orang (prinsip subjektif)? Dunia akan penuh kekacauan dan kehancuran.

Maka itu beginilah kira-kira kejadian bagaimana suatu maksim bisa menjadi kewajiban moral universal yang bersifat imperatif kategoris. Berikut ini saya kutip pernyataan Immanuel Kant, tetapi mungkin akan sulit untuk dipahami karena terjemahan dalam bahasa Indonesianya memang sulit dipahami:

Saya telah, misalnya, merekayasa maksim saya untuk menambah harta kekayaan dengan cara apa saja yang halal. Sekarang, saya memiliki sebuah deposito yang pemiliknya meninggal tanpa meninggalkan catatan apa pun. Tentu saja, kasus ini termasuk dalam maksim saya.

Selanjutnya, saya ingin tahu apakah maksim ini dapat berlaku sebagai sebuah hukum praktis yang universal. Oleh karena itu, saya menerapkannya pada kasus ini dan bertanya apakah maksim ini dapat berbentuk sebuah hukum, dan, konsekuensinya, apakah dengan maksim tersebut saya dapat membuat hukum bahwa setiap manusia boleh menolak bahwa deposito yang dibayarkan ketika tak seorang pun dapat membuktikan yang sebaliknya. Saya segera menyadari bahwa menjadikan prinsip tersebut sebagai hukum akan menghancurkan prinsip itu sendiri karena hasilnya adalah bahwa tak seorang pun bersedia membayar deposito.

Hukum praktis yang saya akui harus mempunyai kualifikasi sebagai hukum universal. Ini merupakan sebuah proposisi yang identik dan, karenanya, terbukti dengan sendirinya. Jika saya katakan bahwa kehendak saya tunduk pada hukum praktis, saya tidak dapat membuat kecenderungan saya (dalam hal ini, keserakahan) jadi dasar penentu dalam hukum praktis yang universal. Kecenderungan ini jauh dari perundang-undangan universal karena dalam bentuk hukum universal ia pasti menghancurkan dirinya sendiri. (Kant, 2005:44-45).

Pada manusia, hukum moral memiliki bentuk imperatif. Meski pun kita dapat beranggapan bahwa manusia sebagai makhluk rasional memiliki kehendak murni (pure will), sejak mereka dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan motif-motif inderawi kita tidak dapat menganggap mereka memiliki kehendak suci (holy will), kehendak menolak maksim apa pun yang bertentangan dengan hukum moral tersebut. Oleh karena itu, hukum moral bagi mereka adalah sebuah imperatif, yang secara kategoris memerintah karena ia tak bersyarat. Hubungan kehendak murni dengan hukum moral bersifat bergantung yang disebut “keharusan” (obligation) (Kant, 2005:53).

Itulah pendapat Immanuel Kant tentang suatu maksim yang dapat menjadi suatu keharusan, kata kunci yang kiranya dapat membantu dalam memahami hal ini adalah:

  • Kewajiban universal
  • Kehendak baik setiap orang
  • Harus bermoral
  • Hukum moral

Daftar Pustaka:

Magnis-Suseno, Franz. 1997. 13 Tokoh Etika. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Kant, Immanuel. 2005. Kritik Atas Akal Budi Praktis. Diterjemahkan dari judul Critique of Practical Reason (1956) oleh Nurhadi. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

Tags: , , , ,

AUTHOR

# Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

Artikel Terkait

Belum ada tanggapan untuk “Maksim Menurut Immanuel Kant”

Silakan Beri Komentar