Langganan artikel
  • Home
  • Rekan
  • Layanan
  • Media Iklan
  • Informasi Situs
    • Privacy Policy
  • Pranala Luar
    Artikel Selanjutnya
    Artikel Sebelumnya

    2 Prinsip Etika: Absolutisme Etika dan Relativisme Etika

    Ada 2 prinsip etika yang akan terus abadi untuk diperdebatkan yaitu absolutisme etika dan relativisme etika. Kedua prinsip ini merupakan prinsip yang saling bertentangan satu sama lain. Adanya pertentangan ini disebabkan oleh perbedaan pandangan tentang moral. Keberadaan kedua prinsip etika ini secara tak sadar mau pun disadari sudah ada kira-kira sejak tahun 500 SM, para filsuf yang terkait hal ini diantaranya adalah Hecataeus, Protagoras, dan Herodotus, mereka berasal dari Yunani.

    Relativisme Etika

    Dasar katanya adalah relatif (berkaitan dengan … /tergantung kepada … ). Relativisme itu sendiri berarti paham yang percaya bahwa segala sesuatu itu bersifat tidak mutlak, mulai dari pengetahuan mau pun prinsip. Terkait dengan istilah relativisme etika, Shomali telah memberikan definisi yang cukup mudah dipahami yaitu “relativisme etika adalah pandangan bahwa tidak ada prinsip moral yang benar secara universal; kebenaran semua prinsip moral bersifat relatif terhadap budaya atau pilihan individu” (2005:33).  Untuk memahami gambaran besar relativisme etika maka perhatikan contoh berikut:

    • Membunuh itu bisa benar dan juga bisa salah tergantung apa tujuan orang melakukan pembunuhan
    • Orang Callatia memakan ayah mereka yang telah mati sebagai penghormatan dan kebanyakan dari tanggapan kita terhadap hal itu adalah tidak bermoral. Tetapi bagi orang Callatia membakar atau mengubur orang mati adalah perbuatan menakutkan dan menjijikkan atau tidak bermoral

    Absolutisme Etika

    Sedangkan absolutisme berasal dari dasar kata absolut yang artinya mutlak merupakan paham yang percaya bahwa segala sesuatu yang ada itu memiliki sifat mutlak dan universal. Dengan ini, absolutisme etika dapat didefinisikan sebagai paham etika yang menekankan bahwa prinsip moral itu universal, berlaku untuk siapa saja, dan di mana saja. Tidak ada tawar menawar dalam prinsip ini, juga tidak tergantung pada adanya kondisi yang membuat prinsip moral dapat berubah. Untuk memahami gambaran besarnya silakan diperhatikan contoh berikut:

    • Bagaimana pun dan apa pun alasannya membunuh adalah perbuatan tidak bermoral
    • Memperkosa adalah perbuatan yang keji dan tidak bermoral
    • Mengambil hak orang lain adalah perbuatan yang tidak bermoral

    Untuk memahami antara relativisme etika dan absolutisme etika silakan bandingkan masing-masing contoh keduanya dan silakan mengambil kesimpulannya. Silakan baca juga perbedaan antara amoral dan immoral dalam ranah filsafat moral untuk memahami dasar etika.

    Daftar Pustaka

    Shomali, A. Mohammad. 2005. Relativisme Etika. Penerbit: Serambi. Jakarta


    AUTHOR

    aprillins # Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

    Artikel Terkait

    • Makna Moralitas dan Lima Ciri Standar Moral
    • Bermoralkah Pemujaan Sarana di atas Tujuan?
    • Dua Jenis Tanggung Jawab Sosial Dalam Bisnis
    • Teori Etika Lingkungan Biosentrisme
    • Biografi Alfred Jules Ayer Sang Positivis
    • 2 Teori Etika: Utilitarisme dan Deontologi
    • Memakai Barang KW Memengaruhi Reputasi Jangka Panjang

    7 tanggapan untuk “2 Prinsip Etika: Absolutisme Etika dan Relativisme Etika”

    1. buwel
      December 21st, 2009 at 09:33 | #1
      Reply | Quote

      Ywudah, ngikut yang absolutisme etika ajah ah… :-)

      • aprillins
        December 21st, 2009 at 10:01 | #2
        Reply | Quote

        hhehehe silakan :razz:

    2. Seti@wan Dirgant@Ra
      December 21st, 2009 at 09:36 | #3
      Reply | Quote

      Saya baru belajar banyak tentang filsafat setelah sering berkunjung kesini.
      makasih banyak prill…

    3. Seti@wan Dirgant@Ra
      December 21st, 2009 at 09:37 | #4
      Reply | Quote

      Nah… loh… koment saya yang tadi masuk nggak??

    4. Seti@wan Dirgant@Ra
      December 21st, 2009 at 09:38 | #5
      Reply | Quote

      :smile: yah… tyernyata tidak…
      Padahal saya koment bahwa, saya baru banyak belajar tentang filsafat setelah sering berkunjung kesini…. gitu deh.
      makasih banyak prill…

      • aprillins
        December 21st, 2009 at 10:03 | #6
        Reply | Quote

        hehhehe,, masuk semuanya kok pak iwan.. sama-sama Pak iwan.. senang rasanya kalau bisa berguna bagi orang lain.. :oops: :mrgreen:

    5. Fais
      December 21st, 2009 at 10:56 | #7
      Reply | Quote

      aku ga’ trLaLu ngerti fiLsafat jD mohon panduannya yach…

    Silakan memberi tanggapan

    Batalkan memberi komentar

    Kategori Artikel

    • Aksiologi
    • Epistemologi
    • Etika
    • Etika Bisnis
    • Etika Lingkungan
    • Etika Politik
    • Etika Teknologi
    • Filsafat Agama
    • Filsafat Kebudayaan
    • Filsafat Ketuhanan
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Manusia
    • Filsafat Pendidikan
    • Filsafat Politik
    • Filsafat Sosial
    • Filsuf
    • Kontemplasi
    • Kosmologi
    • Metafisika
    • Sejarah Etika

    Artikel Terbaru

    • Teori Koresponden: Ujian Persamaan dengan Fakta
    • 8 Prinsip Postulat Ilmiah, Aksioma, dan Konsep
    • Common Sense, Subjektivisme dan Objektivisme
    • Pandangan Objektivisme dan Subjektivisme Ekstrim Akan Gagal
    • Menanggapi Persoalan Moral dan Budaya dari Attayaya
    • Gottfried Wilhelm Leibniz – Doktor Pada Usia 20 Tahun
    • Rene Descartes – Rasional dan Skeptisisme
    • David Hume – Skeptisisme dan Empirisme
    • Teori Kebenaran Menurut William James
    • Aurellius Augustinus Hipponensis Antara Kristen dan Filsafat
    Aprillins © 2008-2010 | aprillins.com powered by Advanced Wordpress
    All content are protected. Copying are limited by showing a link in your bibliography
    TopOfBlogs