Langganan artikel
  • Home
  • Rekan
  • Layanan
  • Media Iklan
  • Informasi Situs
    • Privacy Policy
  • Pranala Luar
    Artikel Selanjutnya
    Artikel Sebelumnya

    5 menit untuk 5 tahun?

    Perhatian untuk pembaca: note ini hanya luapan si pengarang saja. bukan bermaksud sok pinter, bukan bermaksud menghakimi siapapun, dan bukan bermaksud untuk menyakiti siapapun….

    28.03.09

    beberapa hari lagi menuju Pemilu…

    Masih terngiang jaman Pak Harto ada lagu Pemilu yang sangat happening itu?

    “Pemilihan umum telah memanggil kita
    seluruh rakyat menyambut gembira
    hak demokrasi pancasila
    hikmah Indonesia merdeka

    Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
    pengemban Ampera yang setia
    di bawah Undang-undang Dasar 45
    kita menuju ke pemilihan umum”

    Well kenapa itu gak pernah terdengar lagi ya? Adakah caleg yang menyanyikan itu? Atau mungkin takut disangka antek-antek orba?

    Padahal, menurut saya lagu itu efektif…. Terdengar nasionalis ketimbang lagu2 yang diusung partai2 sekarang (ada yang pake ‘Sempurna’ lah, terus PKS itu Partai Kita Semua, kalo Gerindra sih gak usah pake lagu, cukup suara burung garuda atau hitsnya 3 Diva, hehe)

    Ohya,ada lagu baru yang dipopulerkan Cokelat untuk Pemilu…
    5 menit untuk 5 tahun (kalo ndak salah)
    well, kenapa harus 5 menit? biar tagline nya oke sama 5 tahun?
    buat apa 5 menit dalam bilik? berdoa dulu ato minta wangsit?
    ato memandangi kertas suara super besar yang bisa nutupin badan itu?
    ato mau liat caleg mana yang ganteng ato cantik ato artis?
    ato mungkin pusing?
    ato mungkin kelamaan untuk mencontreng semuanya biar jadi gak sah?
    yahhhhhh kalo saya sih kelamaan ya 5 menit di dalem…..

    jujur, banyak generasi muda yang pada akhirnya bingung mau pilih yang mana….
    padahal menurut saya, Pemilu itu adalah untuk generasi kedepan….
    mau gimana pendidikan anak kita (gratis ato semakin meringis) itu tergantung sapa yang bikin kebijakannya….
    karena setiap UU yang dibuat akan berdampak kedepan, bukan kebelakang….
    saya sebagai generasi muda juga makin bingung….
    pusing karena kok sekarang nyaleg itu hobi…..

    bahkan semakin dibuat pusing dengan strategi komunikasi baik si caleg ataupun partai….
    ( hari ini dapet SMS promosi caleg…. Sigh….. Melanggar privasi nihh….. )
    ada yang bilang wong cilik lah, ada yang pake angka biar (kliatan) pinter, ada yang gulung lengan (niru obama nih), ada yang bilang lanjutkan (korupsinya?), ada yang bilang hati nurani (aneh, jangan2 korupsinya juga pake nurani ntar… hihihi….)

    dan sekarang2 ini lagi kampanye untuk tidak golput….
    nah ini aja masih jadi perdebatan….
    seharusnya mereka bisa berpikir kenapa sampe orang itu mau golput?
    ada ketidakpercayaan disitu…. dan itu wajar….
    berarti semua kampanye gagal….. komunikasinya gak nyampe….
    bukan malah memperdebatkan golput itu sah atau gak… malah ada yang bilang haram… keren….

    jadi, kesimpulannya apa dong?
    kembali ke individu masing2, dengan kompetisi masing2…
    yang mahasiswa ya dengan kepintarannya (mungkin sesuai jurusannya)
    kalo saya karena saya anak komunikasi, ya mungkin melihat dari retorika atau strategi komunikasi yang berhasil…. (walaupun gak menjamin 100% bakal milih partai tersebut sih…)
    yang cuma lulus SMA or SMP ya dengan standar pengetahuan masing2 juga…..
    yang gak sekolah, ya dengan menghitung partai mana yang pas kampanye kasi sembako paling gede kali ya….. (ironis, kampanye bagi sembako aja bisa sampe ribut2…. belom jadi caleg itu bawa korban… Sigh…)

    Dan untuk akhirnya….
    Hari ini terinspirasi oleh salah satu tim sukses (mungkin) Hanura yang mengetok pintu mobil saya….
    “Permisi mbak, ini silakan diambil flyernya…”
    “Oh, iya makasi mas tapi mendingan gak deh daripada dibuang sayang…”
    “Oh gak papa, mbak. Dibaca aja dulu terus setelah itu terserah mbak. Pilih HANURA ya mbak tanggal 9″
    Saya diam dan berpikir….. Lalu melirik kaca spion belakang…. Lalu berkata….
    “Mas, liat stiker di belakang kaca (mobil) saya?”
    ‘Iya,mbak kan anak UI jadi pasti tau mana yang berhati nurani kan?’
    ‘Oh, kalo saya sih tugasnya cuma menggulingkan siapapun yang diatas,mas. Soekarno, Soeharto.. Ya itu tugas anak UI.’
    Dan si mas-mas HANURA itu diam…..
    *maaf mas, soalnya saya bingung hati nurani saya sama gak dengan hati nurani anda? saya aja masih gak tau arti hati nurani dalam berpolitik itu bagaimana… saya cuma tau manusia yang paling berhati nurani ya ibu saya, tapi ibu saya milih si ibu karena sama2 ibu-ibu, gak mau milih SBY yang bawa banyak musibah n korban (awal pemerintahan tsunami aceh, akhir pemerintahan tsunami tanggul…) ato JK yang kata ibu saya mukanya kayak tikus jadinya licik, juga gak mau milih Sultan soalnya ntar ibukota pindah ke jogja, gak mau milih Sutiyoso ntar seluruh Indonesia dibikin busway, juga gak mau Prabowo soalnya kayak anak baru masuk SD yang ditanya gurunya cita2nya apa? PRESIDEN,bu! Saya udah nanya 3 Diva mau gak dukung saya, tapi saya lupa minta restu Om Sintong…..

    Thanks To Viola Kurniawati


    AUTHOR

    aprillins # Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

    Artikel Terkait

    • Memilihlah Dalam Pemilu Agar Tak Menyesal Kemudian
    • Golput Pemilu 2009 Haram?
    • Pemikiran Aristoteles Tentang Negara dan Filsafat Politik
    • Machiavelli: Cara Menjadi Penguasa Dengan Kekejaman
    • Kongres Filsafat Sedunia Abad 21 Turki
    • Esensi Hari Kemerdekaan Indonesia Ke-64
    • Foto Jakal Jogja: Pemilu 2009 Sangat Amat Damai Sekali

    2 tanggapan untuk “5 menit untuk 5 tahun?”

    1. attayaya
      April 3rd, 2009 at 01:35 | #1
      Reply | Quote

      kurasa aku akan menghabiskan waktu lebih dari 5 menit, karena kebingungan memilih dengan banyaknya calon. lalu kesusahan membuka kertas pilihan selebar kertas koran plus hati nurani yang tidak sama dengan yang dipilih

      so…..?

    2. aprillins
      April 3rd, 2009 at 02:35 | #2
      Reply | Quote

      Beghhhh…. bener tuh.. saking gedenya tuh kertas pemilihan suara, ditambah lagi tulisannya kecil-kecil.. masya allah.. pasti puyeng deh.. apa lagi yang udah tua.. pasti membaca saja sulit..

      so..? contreng aja deh siapa ajah.. daripada kata MUI haram heuheuehuehe

    Silakan memberi tanggapan

    Batalkan memberi komentar

    Kategori Artikel

    • Aksiologi
    • Epistemologi
    • Etika
    • Etika Bisnis
    • Etika Lingkungan
    • Etika Politik
    • Etika Teknologi
    • Filsafat Agama
    • Filsafat Kebudayaan
    • Filsafat Ketuhanan
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Manusia
    • Filsafat Pendidikan
    • Filsafat Politik
    • Filsafat Sosial
    • Filsuf
    • Kontemplasi
    • Kosmologi
    • Metafisika
    • Sejarah Etika

    Artikel Terbaru

    • Teori Koresponden: Ujian Persamaan dengan Fakta
    • 8 Prinsip Postulat Ilmiah, Aksioma, dan Konsep
    • Common Sense, Subjektivisme dan Objektivisme
    • Pandangan Objektivisme dan Subjektivisme Ekstrim Akan Gagal
    • Menanggapi Persoalan Moral dan Budaya dari Attayaya
    • Gottfried Wilhelm Leibniz – Doktor Pada Usia 20 Tahun
    • Rene Descartes – Rasional dan Skeptisisme
    • David Hume – Skeptisisme dan Empirisme
    • Teori Kebenaran Menurut William James
    • Aurellius Augustinus Hipponensis Antara Kristen dan Filsafat
    Aprillins © 2008-2010 | aprillins.com powered by Advanced Wordpress
    All content are protected. Copying are limited by showing a link in your bibliography
    TopOfBlogs