Fakta dan Nilai Menurut Cornelis Anthonie van Peursen

Dalam bab-bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa “realitas” bukanlah semacam dunia filosofis yang tersembunyi di balik berbagai benda dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya realitas harus ditemukan dalam berbagai hal yang kongkrit yang dapat tampak dalam pengalaman bersama dan kehidupan sehari-hari. Kita tidak membutuhkan suatu filsafat dengan berbagai macam konsep yang rumit dan ide yang abstrak, melainkan yang kita butuhkan adalah “ontologi deiktik” (lihat Bab I). Dalam ontologi ini banyak orang yang bertanggung jawab mengacu kepada berbagai peristiwa yang kongkrit. Yang terkait secara langsung dengan realitas bukanlah bermacam ide yang hebat atau berbagai konsep yang universal, melainkan manusia yang berbicara tentang harapan dan kewajibannya, yang bersama-sama membentuk masyarakat yang bertanggung jawab (lihat Bab III). Akan tetapi ini tidak berarti bahwa kita memilih jalan termudah, karena realitas sehari-hari ini bukanlah dunia fakta yang telah baku, melainkan adalah kawasan perilaku evaluatif yang dapat diberdebatkan. Dalam ilmu pengetahuan sering fakta-fakta begitu saja dinyatakan dan bahkan dibuktikan secara meyakinkan. Metode ilmiah berusaha untuk mendapatkan cara berpikir yang efektif dan konklusif. Cara hidup yang ditandai teknologi dan sikap ilmiah sangat mempengaruhi dan tingkah laku kita. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kita merasa cenderung ke arah berbagai pernyataan faktual dan sikap yang menghargai fakta. tetapi dengan menunjukkan keuntungan metode ilmiah yang ketat, Bab IV-VI memperlihatkan adanya dorongan struktural, justru dalam metode-metode tersebut, ke arah realitas sehari-hari yang luas. Hanya melihat ke arah berbagai fakta dan mengabaikan peranan nilai-nilai bukanlah cara yang tepat dalam menghadapi realitas kongkrit.

Sudah menjadi jelas juga bahwa “realitas” adalah sesuatu yang tidak pernah dapat direduksi menjadi pengetahuan manusia atau kreasi manusia. Berulang-ulang harus kita perbaiki berbagai pendapat kita. Penelitian ilmiah harus selalu diperbaiki dan dikoreksi. Pengetahuan menausia tetap terbatas dan tidak akan pernah mencakup keseluruhan dunia yang nyata ini. Realitas mengandung suatu tantangan, sesuatu yang tidak dapat direduksi dan tetap berbeda. Ini telah ditunjukkan dengan istilah “transendensi”: melampaui batas-batas pengetahuan dan persepsi manusia. Dalam arti ini kita harus selalu bertanya apa sesungguhnya bermacam-macam fakta yang nyata. Bahasa dan pengetahuan, bahkan kebudayaan manusia, tergantung pada realitas faktual (dalam Bab II hal ini disebut struktur transendental dari pengetahuan kita). Tetapi acuan ke berbagai fakta ini tidak berarti bahwa fakta adalah fakta murni begitu saja. Yang dimaksudkan di sini adalah ketergantungan pada realitas faktual, atau, dalam istilah filsafat, itu berarti ketergantungan pada “faktisitas”.

Untuk memperjelas hal ini kita harus lebih dahulu bertanya apa sesungguhnya “fakta” itu. Apakah fakta itu sesuatu yang telah baku dan mandiri? Sering fakta dianggap sebagai basis atau kesempatan bagi pengetahuan. Dalam empirisme filosofis, fakta dilihat sebagai basis, dalam rasionalisme fakta dilihat sebagai kesempatan bagi pengetahuan. Dalam empirisme, berbagai fakta atau bahkan berbagai keualitas yang diamati pada fenomena (seperti warna umpamanya), dianggap sebagai basis bagi pengetahuan yang didasarkan pada persepsi langsung. Dalam rasionalisme, fenomena faktual yang diamati dianggap sebagai kesempatan yang merangsang terbentuknya pengetahuan. Walau pun kedua filsafat ini berbeda satu dengan yang lainnya keduanya sepakat bahwa “fakta” harus dibedakan secara tajam dari “nilai”. Sering “fakta” ditempatkan pada kutub objektif sedangkan nilai ditempatkan pada kutub subjektif dari pengalaman manusia. Kadang-kadang orang menolak penilaian karena dianggap sebagai hal yang irasional dan sebagai ungkapan perasaan belaka. Kadang-kadang nilai direduksi menjadi fakta dalam arti bahwa penyelidikan ilmiah menyingkap bahwa “hubungan-hubungan sosial” dan “fakta-fakta psikologis” reduksi dan penerjemahan terbatas dalam metode ilmu pengetahuan empiris (reservoar kedua dalam Bab V) merupakan sumber dari apa yang disebut nilai. Bahkan lebih sering tidak ada jembatan sama sekali yang dapat menghubungkan deskripsi faktual yang objektif dengan penilaian subjektif. Ini telah diungkapkan dalam pernyataan klasik filsuf empiris David Hume: “dari adanya sesuatu tidak dapat diasalkan bahwa hal itu seharusnya ada”. Berbagai kalimat yang menggunakan “ada” mengacu ke fakta, sedangkan berbagai kalimat yang menggunakan “seharusnya” mengacu kepada suatu tugas, kepada suatu keputusan yang mengandung suatu nilai (“baik”,”indah”, dan sebagainya). Bab ini akan mempertahankan suatu tesis yang lain: semua fakta diasalkan dari suatu keharusan.

Jika memang intersubjektivitas mempunyai  peranan yang besar dalam memperjelas apa sesungguhnya realitas itu, sebagaimana sudah dikatakan dalam Bab II dan III, maka bahkan sebuah kata seperti “fakta” justru memperoleh maknanya dalam percakapan yang bersifat intersubjektif. Dalam hal ini, fakta hanya mungkin terlihat jelas dalam konteks masyarakat atau kebudayaan khusus. Beberapa contoh tentang hal ini sudah diberikan: permainan primitif lengan batu-batu kerikil (Bab I) atau rambu-rambu lalu lintas (Bab III). Tetapi di sini dibutuhkan penjelasan lebih lanjut. Apa yang sebenarnya dimaksudkan jika kita menggunakan perkataan: “mengungkapkan fakta”? Perkataan ini sering digunakan dan bahkan tanpa banyak pikir, dalam bahasa sehari-hari, tetapi juga dalam bahasa berbagai ilmu dan filsafat. Tetapi objek yang dimaksud, yaitu “fakta”, jarang terjadi dan ini membutuhkan banyak pemikiran! Dalam bab pertama kita sudah melihat bahwa bahasa manusia mempunyai kemungkinan untuk mengelompokkan fenomena secara berbeda-beda. Kebudayaan dan masyarakat manusia dapat dianggap sebagai semacam permainan. Melalui permainan ini apa yang kita sebut “alam” hanya mungkin terlihat dalam interaksi sejarah manusia yang dinamis. Hanya di sinilah muncul dunia kongkret dan nyata.

Pandangan yang sama harus digariskan sekali lagi dalam perspektif tesis yang disebut di atas bahwa “fakta” diasalkan dari “penilaian”, “ada” diasalkan dari “seharusnya”. Fakta tidak dapat dipisahkan dari jenis bahasa yang mengacu kepada fakta tersebut, sehingga fakta hanya mungkin terlihat dalam keragaman dan nuansa penggunaan bahasa, yaitu dalam perilaku manusia. Mengungkapkan fakta tampaknya merupakan soal objektivitas dan soal pandangan yang netral saja. Akan tetapi, sebagaimana mungkin akan kita lihat lagi, fakta adalah titik temu dari serangkaian berbagai makna lebih fundamental yang dapat dikenakan pada kata “fakta” itu.

“Di sana adala sebuat batu”, “kunci tidak berfungsi”, ungkapan ini dan masih banyak ungkapan lain semacamnya mungkin saja hanya sekedar mengungkapkan fakta. Tetapi berbagai ungkapan ini jarang digunakan secara deskriptif atau pun konstatatif belaka. Suatu bentuk bahasa yang konstatatif hanya merupakan kulit luar yang tipis dari bahasa sehari-hari. Fakta hampir selalu diterapkan dalam situasi tertentu. Sebuah mobil dihentikan di jalan yang landai dengan bahaya bahwa mobil itu akan tergelincir ke belakang. “Di sana ada batu”, atau hanyalah “batu”, atau bahkan hanya menunjuk kepada sebuah batu, dalam situasi seperti itu adalah lebih dari sekedar mengungkapkan fakta saja. Di sini batu itu berfungsi sebagai “fakta” (atau sebagai “faktisitas”) dalam konteks perintah manusia untuk meletakkan batu itu di belakang ban mobil untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Batu itu sendiri bukanlah realitas faktual melainkan keseluruhan situasi tersebut: peristiwa bahwa justri batu itu kebetulan ada di jalan tempat mobil tadi berhenti. Peristiwa itu merupakan situasi di mana manusia harus bertindak secara bersama-sama, harus saling menolong satu sama lain sehingga mereka menunjuk batu itu dan mengimbau satu sama lain dengan namanya (lihat Bab III tentang identitas pribadi dan nama pribadi).

“Kunci tidak berfungsi”. “Sungguh benar kunci tidak berfungsi”? dan setelah menyatakan demikian ternyata kunci itu memang tidak berfungsi: “Ya, Anda benar”. Ini berbeda dari verifikasi dalam konteks ilmiah. Tentu saja, kita bisa semakin dekat dengan sikap ilmiah seperti itu jika, dengan memeriksa kunci, kita terserap sepenuhnya ke dalam berfungsinya kunci itu sehingga situasi yang sesungguhnya menjadi terlupakan. Situasi yang sebenarnya: “kunci tidak berfungsi” sebagai imbauan untuk memperoleh bantuan bagi orang yang tidak bisa keluar dari kamar itu. “Fakta” yang dapat dinyatakan di sini hanyalah sebuah bayangan “fakta nyata”, bahwa sekumpulan orang yang ada di sini saling memanggil satu sama lain dengan nama mereka untuk mencegah kecelakaan atau untuk memberi pertolongan. Pengalaman manusia, pengetahuan dan tindakan, bahkan deskripsi perintah dan pengumuman, pertama-tama membentuk suatu kesatuan. Hanya setelah itu, bila keseluruhan situasi nyata tidak dipertimbangkan lagi, fakta itu dapat ditetapkan atau diperikan. Fakta-fakta itu mendapat ciri sebagai hal yang baku dan tidak mengenal waktu, karena dilepaskan dari berbagai peristiwa yang kongkrit, di mana “fakta-fakta” ini berfungsi hanya sebagai aspek atau “kulit luar” dari realitas.

Kini menajdi jelas bahwa jika kita menetapkan suatu fakta (jika kita memerikan suatu keadaan), kita hanya menunjuk kepada berbagai aspek dari suatu situasi menyeluruh. Dengan memisahkan suatu aspek semacam itu kita akan memperoleh suatu “fakta” yang agak stabil dan objektif: batu tanpa hubungan dengan keseluruhan situasi kritis, kunci lepas dari imbauan manusia untuk mendapat pertolongan. Fakta terpisah seperti itu dengan demikian hanya merupakan aspek skematis dari realitas lebih luas, yang dilepaskan dari peran yang sebenarnya dimilikinya dalam sejarah manusia. Dalam arti ini faktau juga dilepaskan dari maknanya yang lebih luas di dalam berbagai situasi historis, sosial, etis, kultural, dan religius. Dengan menunjuk kepada berbagai aspek skematis dan terpisah itu kita tidak masuk sampai ke bawah permukaan realitas sehari-hari, ke dalam fakta yang secara universal dapat dijelaskan. “Fakta-fakta” ini bukan merupakan suatu substratum yang stabil dan objektif dari pengalaman kita sehari-hari dan pengamatan kita yang berubah-ubah. Tidak. Walau pun mungkin kedengaran aneh, “fakta-fakta” ini dalam arti yang sebenarnya sangat “abstrak”. Kata “abstrak” berarti bahwa fakta tersebut “dilepaskan dari” (Latin:  abstraho) realitas yang kurang stabil dan lebih dinamis berupa nasihat, diskusi, persuasi, penilaian, catatan kritis, atau menyebut masing-masing dengan namanya. “Fakta-fakta” tersebut telah dijadikan stabil dan baku sebagai hasil pembatasan dan reduksi peristiwa dan pribadi kongkrit yang mempunyai nama masing-masing.

Di sini dapat dikemukakan sebuat kebenaran: bukankah ciri khas fakta yang telah mapan adalah bahwa fakta tersebut tidak terbantahkan? Dan bukankah “fakta nyata”, berbagai faktor faktual, yang diperikan dalam berbagai contoh sebelumnya merupakan suatu tumpukan berbagai peristiwa yang dapat ditantang atau bahkan ditentang? Dalam berbagai kisah seperti itu tidak saja berperanan sebuah batu ini, ini dapat diperikan degan cara agak pasti, melainkan juga perntah untuk menggunakan batu tersebut, anggapan bahwa batu itu cukup kokoh untuk mencegah mobil tadi mundur ke belakang, dan keyakinan bahwa bahaya harus dihindarkan. Bahkan penilaian terselubung ikut berperan: kita harus membantu orang lain, mencegah bahaya merupakan suatu hal yang baik, dan sebagainya. Semua kualifikasi ini dapat diperdebatkan. Bukankah lebih baik berpegang erat pada fakta saja dan menyelidiki “fakta di balik kualifikasi tersebut”, “ada” di balik “seharusnya”? Dalam mengikuti garis pemikiran tersebut berat batu tadi akan ditimbang, daya tarik dari mobil tadi akan diukur, hormat kepada kehidupan manusia diselidiki kritis oleh sosiologi.

Keberatan seperti itu sebenarnya absah. Namun demikian konsekuensinya salah. Berbagai hal yang disebut tadi memang merupakan fakta yang tetap dapat diperdebatkan. Tetapi ini tidak berarti bahwa berbagai hal ini harus diganti dengan penimbangan, pengukuran atau penelitian sosiologis. Kita tidak mengatakan bahwa pendekatan kuantitatif dan teoritis tersebut tidak berguna. Dalam Bab IV kita sudah membuat suatu pembedaan antara bahasa yang jelas dengan sendirinya dan bahasa yang mengejutkan. Telah dikemukakakn bahwa bahasa yang jelas dengan sendirinya dapat ikut memberi ciri khas kepada bahasa yang mengejutkan (“saya tidak menyangka bahwa tuan A lebih tinggi dari tuan B” sebanyak itu). Akan tetapi, memberi ciri kepada suatu bahasa bukanlah berarti menggantikannya, melainkan sebaliknya justru menegaskannya. Bahasa ilmiah dan berbagai fakta yang telah mapan harus berfungsi menggambarkan realitas sehari-hari. Bahasa dan berbagai fakta tersebut tidak mempunyai tujuan pada dirinya sendiri. Janganlah bahasa ilmiah dan berbagai fakta yang ditetapkan itu menjadi pelarian dari tanggung jawab atau pelarian untuk menghindari ciri realitas yang memang dapat diperdebatkan.

Realitas yang sebenarnya tidak dapat ditetapkan sebagai data murni, tanpa hubungan dengan suatu kebijaksanaan manusia. Fakta, dalam arti pernyataan skematik (“konstatatif”), merupakan skematisasi yang lebih objektif tetapi juga lebih abstrak dari faktualitas nyata. Fakta dapat membantu memberi orientasi skematis bagi realitas sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan pada akhir Bab IV, fakta dapat berfungsi sebagai semacam radar yang menangkap berbagai kerangka yang mungkin dalam realitas etis. Hanya sekedar kumpula atau akumulasi berbagai fakta tidak mengatakan apa pun, kecuali jika turut diperlihatkan suatu tatanan, aturan atau cara. Dan ini hanya berlaku jika fakta yang ada tersebut dipadukan dengan aktualitas sebenarnya dari berbagai peristiwa dan situasi yang nyata. Di sini manusia harus menafsirkan peristiwa-peristiwa itu dalam alam dan sejarah agar menemukan aktualitasnya yang sebenarnya (“fakta-fakta yang nyata”). Dengan demikian manusia, dalam kebijaksanaannya sehari-hari, dalam strategi sosial, dalam pandangan budaya, tetapi juga secara lebih abstrak dalam pengetahuan ilmiah, membuka berbagai jalan (kata “metode” berarti: mengikuti sebuah jalan) di rimba berbagai fakta kasar. Dengan melakukan demikian fakta yang sebenarnya dan kongkrit mendapatkan maknanya yang nyata dan masuk ke dalam kisah, mitos, meditasi, kerja, dan keputusan umat manusia.

Berbagai peristiwa nyata mempunyai sesuatu yang tiada habisnya, sesuatu yang tidak terbatas. Bahkan beberapa batu kerukil (contoh dalam Bab III), atau batu di balik ban mobil (contoh dalam bab ini) menjadi nyata hanya jika semua hal itu ditafsirkan dan jika semuanya memperoleh maknanya yang sebenarnya dalam kehidupan budaya dan sosial manusia. Tentu saja, berbagai situasi itu dapat ditafsirkan dengan berbagai macam cara yang tak ada batasnya dan apa yang disebut fenomena “yang sama” tampak berbeda sesuai dengan konteks budayanya. Berbagai peristiwa dapat diperdebatkan. Tetapi dengan demikian berbagai peristiwa itu tidak kehilangan maknanya. Sebaliknya hal itu menandai adanya banyak sekali kemungkinan untuk menjelaskan kehidupan dan untuk menafsirkan dunia ini. Ciri realitas yang tiada habisnya ini justru adalah transendensinya. Serangkaian “fakta” yang berhingga, yang dapat diperikan dan diukur, melepaskan sesuatu dari realitas yang tak berhingga itu. Kepastian dan ketepatannya dibayar dengan pembatasan keragaman realitas yang dapat diperdebatkan. Realitas yang mengejutkan tidaklah jelas. Dan karena itu diskusi, komunikasi, hubungan manusia harus berlangsung terus.

Kesimpulannya adalah bahwa penilaian dan pertimabangan kualitatif tentang situasi tertentu tidak hanya bersifat subjektif atau irasional. Penilaian dan pertimbangan itu menyangkut realitas dengan menantang berbagai pendapat kita serta cara kita dalam melihat sesuatu. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa penilaian atau nilai merupakan suatu hal yang objektif dan akhir, semacam bukti definitif atau akhir dari segala macam diskusi. Sebaliknya, sesuatu yang nyata membutuhkan diskusi dan kritik lebih lanjut. Sesuatu yang nyata bukanlah asas objektif yang “a priori”, melainkan sesuatu yang bersifat “a posteriori”. Atau lebih tepat, sesuatu yang nyata adalah hasil hubungan timbal balik, yaitu suatu tugas untuk berusaha mendapatkan objektivitas dan kesepakatan pendapat. Realitas bukanlah sesuatu yang terselubung, melainkan sesuatu yang terlihat jelas dalam tugas komunikasi yang tak pernah berakhir antara berbagai pribadi (intersubjektivitas) dan kebudayaan.

Fakta dan Nilai, Bab VII dari buku Fakta, Nilai, Peristiwa: Tetang Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Etika. Prof. Dr. C.A. van Peursen diterjemahkan oleh: Drs. A. Sonny Keraf. Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1990.

Diedit kembali oleh saya karena ada permasalahan teknis penggunaan kata. Dalam memahami Bab VII ini saya menggunakan waktu sekitar 5 jam 40 menit itu pun masih harus di baca ulang.. karena penerjemahan dan penggunaan bahasanya sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana tidak? Banyak kosakata asing yang tidak memiliki padanan makna dengan bahasa Indonesia sehingga pada penerjemahannya mungkin digunakan kata atau kalimat yang mendekati makna aslinya tersebut.

Tags: , , , , ,

AUTHOR

# Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

Artikel Terkait

Belum ada tanggapan untuk “Fakta dan Nilai Menurut Cornelis Anthonie van Peursen”

Silakan Beri Komentar