Langganan artikel
  • Home
  • Rekan
  • Layanan
  • Advertising
  • Informasi Situs
    • Privacy Policy
    • Pranala Luar
  • Lowongan
Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

Jangan Pedulikan Pemanasan Global! Pedulikan Bumi!

7 April 2009 05:04 PM - oleh aprillins Ada 27 tanggapan

“Saya tidak peduli dengan isu pemanasan global, saya hanya peduli pada bumi ini.”

Sebenarnya anak kalimat kedua pada kalimat di ataslah yang seharusnya ditanamkan dalam jiwa dan pemikiran manusia. Bentuk kepedulian saat ini atas isu pemanasan global sebenarnya masih semu. Orang peduli karena ada masalah pemanasan ini, bukan menganggap peduli sebagai suatu “keharusan”. Dalam hal ini “keharusan” peduli pada bumi, ini yang harus ditekankan. Bagaimana bisa mencegah pemanasan global secara signifikan apabila bentuk kepeduliannya masih terkotak-kotak? Misalnya, yang diketahui oleh banyak orang secara umum adalah menanam pohon dan tidak membuang sampah sembarangan untuk mencegah pemanasan global, tapi apa selanjutnya? Itu sajakah? Padahal bentuk upaya dalam mencegah pemanasan global sangat bermacam-macam. Inilah fokus kepada persoalan pemanasan global saja sehingga bentuk upaya yang lain menjadi tersamarkan.

Andaikan saja kepedulian orang menjadi suatu bentuk “peduli bumi” tentu saja bentuk upaya orang akan lebih mendasar. Orang tidak hanya terkotak pada beberapa tindakan saja seperti menanam pohon dan tidak membuang sampah sembarangan, melainkan juga ke banyak tindakan. Orang tidak hanya berpikir bagaimana mencegah pemanasan global, juga orang akan berpikir bagaimana limbah dapat diminimalisir atau bahkan diatasi, bagaimana menjaga lingkungan agar tetapi bersih, bagaimana sikap yang seharusnya dalam hidup di ekosistem ini.

Pernahkah anda melihat:

  1. Peserta kampanye pemanasan global membuang puntung rokok di pot bunga atau di sembarang tempat?
  2. Dosen atau orang terdidik membuang bungkus permen di jalanan?
  3. Anggota pecinta alam meninggalkan sampahnya di puncak gunung atau tepi pantai?

Kejadian ini banyak terjadi! Untuk membuktikannya silakan libatkan diri anda pada salah satunya. Mereka peserta kampanye pemanasan global, mereka dosen (orang terdidik), dan mereka pecinta alam. Tapi itu hanya sekedar nama saja. Banyak dari mereka (tetapi tidak semua orang) tidak menjiwai apa itu “peduli bumi”, mereka hanya menjalankan formalitas saja sehingga misalnya ada aturan “Buanglah sampah di tempat sampah” ketika tidak ada tempat sampah mereka akan membuangnya sembarangan, bukannya menyimpannya sampai menemukan tempat sampah. Lihat saja mereka memiliki titel sebagai peserta kampanye pemanasan global, pecinta alam, dan dosen saja bisa berbuat demikian apalagi orang biasa dengan pendidikan terbatas? Tetapi di sini tidak menuduh semua orang berlaku demikian tetapi memang mayoritasnya seperti itu.

Jikalau orang menjiwai dan memahami apa itu “peduli bumi”, orang akan paham betul mengapa tidak membuang sampah sembarangan, mengapa menghemat listrik, mengapa tidak menebang pohon, mengapa menghemat kertas, mengapa menghemat air, mengapa menghemat penggunaan bahan bakar, dan lainnya. Orang pun akan berusaha dengan maksimal dan sepenuh hati demi menjaga bumi ini agar tetap asri. Usaha seperti ini merupakan “keharusan”, tetapi bukan “keharusan” sebagai paksaan, tetapi karena perasaan sadar bahwa kita “harus” melakukannya. Oleh karena itu orang yang benar-benar “peduli bumi” tidak akan berharap banyak bahwa pemanasan global dapat dicegah, melainkan lebih kepada alasan menjaga bumi tetap asri. Inilah tujuan yang lebih mulia dibandingkan dengan hanya sekedar peduli terhadap wacana pemanasan global.

Sesuatu yang dapat kita lakukan untuk menjaga bumi ini tetap asri, lakukanlah! Lakukan dengan sadar dan mawas diri. Sehingga kita paham dengan apa yang kita telah perbuat dan apa yang kita akan perbuat terhadap bumi. Lalu, darimana kita harus memulai? Bagaimana kita bisa belajar dan memahami? Mulai dari sekarang pertanyakanlah mengapa kita tidak boleh membuang sampah sembarangan dan apa efeknya jika kita tetap membuang sampah sembarangan. Pertanyakanlah efek dari perbuatan jahat anda terhadap lingkungan, lalu kalikan efek perbuatan jahat anda tersebut dengan setengah jumlah penduduk Indonesia apabila mereka juga melakukannya. Pertanyakanlah apa peran dan fungsi tanah, air, udara, pepohonan, dan hewan bagi hidup anda. Bisa anda temukan jawabannya dan berharaplah kita bersama-sama bisa memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan terhadap bumi. PEDULI BUMI..


Tweet

AUTHOR

aprillins # Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

Artikel Terkait

  • Tiga Teori Etika Lingkungan: Egosentris, Homosentris, dan Ekosentris
  • Seminar Skripsi: Sebuah Pembantaian
  • Teori Etika Lingkungan Biosentrisme
  • Filsafat Anti Hak Terhadap Binatang
  • Hak Binatang Tinjauan Filsafat Moral
  • Lingkungan Khusus Sebagai Pertimbangan Etis
  • Pentingnya Etika Bagi Kehidupan

27 tanggapan untuk “Jangan Pedulikan Pemanasan Global! Pedulikan Bumi!”

  1. attayaya
    April 8th, 2009 at 07:00 | #1
    Reply | Quote

    jika kita mencintai diri kita
    jika kita mencintai keluarga kita
    jika kita mencintai tanah air kita
    selamatkanlah bumi

    jangan salahkan bumi
    jika bumi memberi peringatan kepada kita
    agar kita sadar
    bahwa kita butuh bumi

  2. aprillins
    April 8th, 2009 at 10:15 | #2
    Reply | Quote

    nah itu yang penting bang atta… huheueheu… dan semua orang tau bahwa memang kitalah yang perlu bumi…

  3. attayaya
    April 9th, 2009 at 15:24 | #3
    Reply | Quote

    awardnya keren bro
    khusus pulak tuh
    makasih banyak ya bro

  4. Hendrawan
    April 10th, 2009 at 05:01 | #4
    Reply | Quote

    betul.. tak ada guna, lebih baik kita tanam pohon, kurangi emisi gas buang mulai dari rumah sendiri..

  5. arvernester
    April 10th, 2009 at 08:01 | #5
    Reply | Quote

    tiga kasus diatas sering saya lihat, cuman saya tidak bisa negur. percuma negur orang kayak gitu tanpa ada landasan kesadaran dalam diri mereka secara individu.

  6. Pakde
    April 10th, 2009 at 08:15 | #6
    Reply | Quote

    Yang terpenting bagi kita saat ini, adalah bagaimana belajar untuk aware terhadap planet bernama bumi ini. Akan kita jaga seperti apa dan kapan mau memulai untuk menumbuhkan kepedulian itu lahir dalam diri kita.

    Hi…thanks sudah berkunjung ke tempat pakde. ini kunjungan balik saya….dan ternyata disini saya menemukan banyak sekali tulisan yang inspiratif. Nice!!!

    PS. Aprilins, anda adalah comment ke 1000 di tempat pakde. Thanks Ya….
    Tapi maaf pakde tidak menyediakan hadiah ;)

  7. aprillins
    April 10th, 2009 at 08:29 | #7
    Reply | Quote

    harus peduli kepada bumi itu harus.. harus dijaga. seperti komentar hendrawan di atas. kalau saya udah mulai dari tahun 2005 semenjak masuk fakultas filsafat. Dari situ saya menyadari banyak hal,terutama dalam mata kuliah etika lingkungan.

    wah komentar ke 1000 ya hoki bangettt… hehehehe… gapapa ga dapet hadiah. Justru kunjungan balik saya rasa merupakan hadiahnya.

  8. tukang komen
    April 10th, 2009 at 08:38 | #8
    Reply | Quote

    Berangkat kuliah, kerja dsb naik sepeda onthel atw jalan kaki aja… biar ngurangin pemanasan global… he.. he.. he..

  9. JengSri
    April 10th, 2009 at 18:25 | #9
    Reply | Quote

    JengSri mo selamatkan bumi juga ahhhhhhh!!!!!

  10. Sashaa
    April 11th, 2009 at 03:58 | #10
    Reply | Quote

    iyaaa. bener tuh! harus peduli bumi! setujuu abiss ama april heheh. i put you links on my blog already. put mine on yours too? :)

  11. Joo
    April 11th, 2009 at 04:16 | #11
    Reply | Quote

    Waaaaaaaa.. betul itu.. prilll… bd…bd…bd….
    ngomong² new satu keturunan ma attayaya…. sama² sangat peduli sama bumi * I do care*
    saluuuttt.. cokluttt….

  12. aprillins
    April 11th, 2009 at 04:23 | #12
    Reply | Quote

    @shasaa:wowo terima kasihh!!.. pasang juga dehh!!
    @joo: beghh.. satu keturunan sama attayaya.. sama2 peduli bumi.. soalnya memang harus sih, ditambah lagi studi saya etika… huh huh mau ga mau harus menelaah juga tentang etika lingkungan..

  13. kak ega
    April 12th, 2009 at 15:36 | #13
    Reply | Quote

    peduli bumi.. keren2….

  14. afiszone
    April 13th, 2009 at 12:11 | #14
    Reply | Quote

    Yups, bener banget !! Bumi adalah tempat kita, tempat bernaung kita, kalau bumi hancur, mau tinggal di mana kita. hehehe …

  15. xitalho
    April 13th, 2009 at 15:49 | #15
    Reply | Quote

    Setujuuuuu…!! Pokoknya setuju banged.. habis gak ada tempat yang senyaman bumi di sistem tatasurya kita..bahkan mungkin di galaksi bima saktipun cuma bumi yang moy.. buat di huni.

  16. suwung
    April 15th, 2009 at 02:24 | #16
    Reply | Quote

    peduli
    dimaulai dari
    hati
    masing masing

  17. neng aia
    April 15th, 2009 at 08:27 | #17
    Reply | Quote

    i do care! buktinya saya selalu buang sampah pada tempatnya :)

  18. iwan
    April 16th, 2009 at 09:10 | #18
    Reply | Quote

    wah postingan yang sangat menarik….yang patut diteladani…moga apa yang kamu tulis sesuai dengan kenyataan dan banyak yang mengaplikasikannya

  19. Musicool
    September 7th, 2009 at 12:39 | #19
    Reply | Quote

    Untuk mengurangi pemanasan global, mari kita kurangi CO2, baik dari kendaraan bermotor, listrik, ataupun industri. Saya membaca satu poster di salah satu industri elektronik besar di Bekasi, bahwa “setiap penghematan listrik 1 KWh = pengurangan CO2 sebesar 0,712 Kg”, berarti setiap orang bisa ikut aktif dalam mengurangi pemanasan global, paling tidak dengan menghemat pemakaian listrik setiap bulannya.
    Dari manakah penghematan signifikan yang bisa kita dapat? Menurut penelitian yang dilakukan oleh salah satu BUMN di gedung2 komersial, pemakaian mesin pendinginlah (AC, chiller) yang paling besar memakai daya listrik, sekitar 60-70% dari seluruh tagihan listriknya.
    Dan tahukah teman2 Mesin pendingin menggunakan Freon (CFC, HFC, HCFC) sbg bahan pendinginnya, didalam freon mengandung Chlor & Fluor. Chlor adalah gas yang merusak lapisan ozon sedangkan Fluor adalah gas yang menimbulkan efek rumah kaca. Global warming potential (GWP) gas Fluor dari freon adalah 510, artinya freon dapat mengakibatkan pemanasan global 510 kali lebih berbahaya dibanding CO2, sedangkan Atsmosfir Life Time (ALT) dari freon adalah 15, artinya freon akan bertahan di atsmosfir selama 15 tahun sebelum akhirnya terurai.

  20. ridhpo
    March 23rd, 2010 at 10:17 | #20
    Reply | Quote

    mulai dari dri kata andai kita tak menjaga bumi maka bagaiman keadaan bumi setelah kita anak cucu kita akan hanya mendengar cerita tentang keindahan bumi yang mereka lihat hanny kehancuran mendekati kiamat
    jadi apa yang akan kita lakukan bila kita tidak ingin itu terjadi

  21. ridho
    March 23rd, 2010 at 10:22 | #21
    Reply | Quote

    ya law kta mematuhi bahwa KEBERSIHAN SEBAGIAN DARI IMAN TU BAGUS

  22. aprillins
    April 9th, 2009 at 15:41 | #22
    Reply | Quote

    waduh terima kasih ya bang atta pujian yang sangat memukau.. jadi malu ne.. :) )

  23. aprillins
    April 10th, 2009 at 05:08 | #23
    Reply | Quote

    benar benar! baik untuk menanami pohon, tanaman, kurangi emisi gas buang, lalu hemat listrik, buang sampah pada tempat yang seharusnya, dan bangun sikap peduli bumi .. amin :)

  24. aprillins
    April 10th, 2009 at 14:56 | #24
    Reply | Quote

    boleh sih kalo memang waktu cukup naik onthel ato jalan kaki tetapi peduli bumi bukan berarti menyiksa diri sendiri. ada saatnya satu hal bisa diterapkan sesuai apa yang seharusnya dan menjadi prioritas

  25. aprillins
    April 10th, 2009 at 18:35 | #25
    Reply | Quote

    bukannya mau! tapi harus mau! ;) )

  26. aprillins
    April 15th, 2009 at 06:35 | #26
    Reply | Quote

    @suwung: good answer!! B-)

  27. aprillins
    April 15th, 2009 at 08:49 | #27
    Reply | Quote

    tempatnya dimana neng..? cikkakak :) ) yang bener buang sampah ya di tempat yang sudah disediakan.. ehuehuehe :) ) gapapa seh yang penting ngerti aja buang sampah ga boleh sembarangan.. B-)

Berikan tanggapan Anda

Batalkan memberi komentar

Kategori Artikel

  • Aksiologi
  • Epistemologi
  • Etika
  • Etika Bisnis
  • Etika Lingkungan
  • Etika Politik
  • Etika Teknologi
  • Filsafat Agama
  • Filsafat Cina
  • Filsafat Kebudayaan
  • Filsafat Ketuhanan
  • Filsafat Kontemporer
  • Filsafat Kontemporer
  • Filsafat Manusia
  • Filsafat Pendidikan
  • Filsafat Politik
  • Filsafat Sosial
  • Filsuf
  • Kontemplasi
  • Kosmologi
  • Metafisika
  • Ontologi
  • Sejarah Etika

Artikel Terbaru

  • Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?
  • Makna “Kita! Lo aja Kali!” Dari Sudut Pandang Filsafat Politik
  • Haters: Sebuah Fenomenon Kelahiran Si Tukang Benci
  • Permasalahan Lupa dan Ingatan Manusia
  • Kegunaan dan Hakikat Angka Nol
  • Rumah Perlindungan Bagi Bayi Terbuang Setuju atau Tidak?
  • Makna Pembunuhan Karakter
  • Filsafat Kacamata
  • Dari Facebook Democracy Sampai Internet Mobokrasi
  • Permasalahan Ingatan Tinjauan Epistemologi
  • Makna Peribahasa Katak Dalam Tempurung
  • Penggunaan dan Arti Kata “Menggurita”
  • Tembok-Tembok Ciptaan Manusia
  • Paradoks Kebenaran dengan Contoh Plato dan Socrates
  • Manusia dan Obsesi Mereka Terhadap Kecepatan
  • Hubungan Antara Cinta, Otak dan Kesadaran
  • Apakah Internet Membuat Kita Bodoh?
  • Jarak Pandang dan Permasalahan Filsafat yang Rumit
  • Hubungan Antara Blackberry dan Budaya Gengsi di Indonesia
  • Kenapa Mencontek Dapat Merugikan Kita?
  • John Doe dan Identitas Manusia
  • Jika Kita Dilahirkan Dalam Budaya yang Berbeda?
  • Manusia dan Rekayasa Alam
  • Rasionalisme Hukum Indonesia
  • Cuci Otak: Mengontrol Pikiran Manusia
  • Epistemologi Tentang Warna dan Persepsi Indra
  • Dualisme dalam Diri Manusia antara Jasmani dan Rohani
Aprillins © 2008-2011
All content are protected. Copying are limited by showing a link in your bibliography
TopOfBlogs