Filsafat Agama: Tuhan Kaum Mistik

Kata mistik mempunyai hubungan linguistik antara tiga kata, yaitu “mitos”, “mistisisme”, dan “misteri”, yang ketiganya berasal dari kata kerja bahasa Yunani musteion yang artinya menutup mata atau mulut. Kata-kata ini berakar dalam pengalaman tentang kegelapan dan kesunyian. Konotasi yang diberikan, terutama di Barat, menjuruskan ketiga kata ini ke sinonim yang negatif. Kata “mitos” digunakan sebagai sinonim kebohongan. Kata “misteri”, sering digunakan untuk mensinonimkan suatu persoalan yang sulit dijelaskan dan mengusutkan pikiran. Begitupun dengan kata “mistisisme” yang sering dikaitkan dengan perihal kedukunan atau hal aneh lainnya. Pemikiran Barat tidak begitu tertarik akan hal-hal yang bersifat spiritualitas, oleh karena itu kata-kata seperti ini tidak begitu populer lagi di Barat zaman sekarang. Namun demikian, mulai terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan adanya kebalikan arus. Antusiasme Barat terhadap hal mistisisme terlihat sejak tahun 1960-an, dimana orang Barat mulai mempelajari beberapa bentuk Yoga. Ajaran Yoga yang diambil dari Budddhisme mulai berkembang pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Orang-orang di Barat mungkin tengah merasakan kebutuhan secara alternatif bagi cara pandang ilmiah murni terhadap alam semesta.

Agama monoteis, khususnya monoteime historis, pada dasarnya tidak bersifat mistikal. Agama Yahudi, Kristen, dan Islam pada dasarnya merupakan kepercayaan yang bersifat aktif. Motif utamanya adalah penghadapan atau pertemuan pribadi antara manusia dan Tuhan. Tuhan seperti ini berhubungan dengan manusia melalui dialog daripada perenungan yang hening. Namun agama monoteis akhirnya telah mengembangkan suatu tradisi mistik yang membuat Tuhan mereka melampaui kategori personal dan lebih mirip dengan realitas impersonal (nirvana dan Brahman-Atman). Agama mistik lebih dekat dan cenderung lebih membantu pada saat-saat sulit daripada keimanan yang didominasi oleh otak. Tuhan yang dialami oleh kaum mistiklah yang akhirnya menjadi lazim diterima di kalangan penganutnya, hingga relatif belakangan ini.

Tuhan hanya mungkin diketahui melalui pengalaman mistikal. Kaum mistik Yahudi enggan untuk mengakui penyatuan diri dengan Tuhan. Dalam mistikus Yahudi, Tuhan En Sof akan tetap diselimuti kegelapan yang tak tertembus. Di Barat, Kristen lebih lambat untuk mengembangkan tradisi mistikal, tertinggal di belakang kaum monotis Byzantium maupun di imperium Islam. Untuk mencapai Tuhan, orang harus melepaskan belenggu pada ide terbatas apapun tentang Tuhan. Sedangkan Islam dengan kaum sufi telah berhasil meraih keunggulan atas kaum filosof. Mistisisme mampu menerobos lebih jauh ke dalam pikiran daripada bentuk agama lain yang lebih rasionalistik dan legalistik. Tuhan kaum mistik mampu menjawab kebutuhan, ketakutan, dan kecemasan primitif. Hal inilah yang tidak dapat dilakukan oleh Tuhan para filosof yang jauh.

A.     Agama Yahudi

Mistisisme awal Yahudi yang berkembang selama abad 2-3 M tampak menekankan keterpisahan antara Tuhan dan manusia. Orang Yahudi ingin menjauh dari dunia yang di dalamnya mereka dikucilkan. Mereka membayangkan Tuhan sebagai raja perkasa yang hanya bisa didekati melalui perjalanan penuh bahaya menembus 7 lapis langit. Kaum mistis Yahudi menyebut mistisisme ini sebagai “Mistisisme Mahkota”, yang terbukti mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan pertumbuhan perguruan-perguruan besar para rabi. Orang Yahudi lainnya mencoba memberikan tafsiran mistik dan simbolik tentang Tuhan. Mereka mengajarkan disiplin esoterik yang diwariskan dari seorang guru pada muridnya, yang disebut Kabbalah (tradisi yang diwariskan) yang akhirnya menjadi mistisisme Yahudi Baru pada abad 12 dan 13 M. Jika Mistisme Mahkota telah puas dengan melihat kemuliaan Tuhan dari luar, Kabbalah berusaha menembus batin Tuhan dan kesadaran manusia. Tuhan Yahudi yang disebutkan di dalam kitab sucinya adalah Yahweh, yang kemudian diperbaiki dan dihapus citra kesukuan dan personalnya menjadi YHWH. Berbeda dengan YHWH, Kabbalah menyebut Tuhan sebagai En Sof yang tersembunyi. Kita tidak mengetahui apa-apa tentang En Sof, karena ia bahkan  tidak pernah disebutkan di dalam kitab suci. En Sof tidak memiliki nama yang terdokumentasikan dan tidak bergender. Kaum mistik Yahudi memanifestasikan En Sof ke dalam 10 Sefiroth (bilangan) realitas ilahiah. Setiap Sefiroth mewakili 1 tahap dalam pengungkapan wahyu En Sof dan Sefiroth memiliki nama simboliknya sendiri. Sefiroth merupkan nama yang diberikan Tuhan untuk dirinya sendiri sekaligus sarana yang dengannya Ia menciptakan alam. Secara bersamaan, kesepuluh nama ini membentuk 1 kesatuan. Sefiroth bukanlah realitas yang berada secara transenden diantara Tuhan dan alam. Sefiroth hadir dan aktif di dalam segala sesuatu yang ada, dan mewakili tahap-tahap kesadaran manusia yang dilalui seorang mistik untuk naik menuju Tuhan dengan cara turun ke dalam pikirannya sendiri.

Kaum mistik mesti mengembara menuju singgasana Tuhan melalui alam mitologis 7 langit. Namun pengembaraan ini hanyalah pengembaraan imajiner yang tidak dipahami secara harfiah. Pengembaraan yang dimaksud dipandang sebagai pendakian simbolik melalui kawasan-kawasan misterius pikiran. Rabi Yahudi yang berhasil melakukan perjalanan mistik dengan selamat adalah Rabi Akiva. Rabi Akiva menyiratkan tentang saratnya bahaya dalam perjalanan spiritual ini. Peringatan Rabi Akiva mengenai batu pualam murni mungkin merujuk pada kata sandi yang harus diucapkan seorang mistikus pada berbagai titik penting dalam perjalanan imajinernya. Kumpulan imajinasi merupakan suatu ketidaksadaran yang mencuat di dalam mimpi, halusinasi, dan dalam kondisi psikis yang menyimpang. Kaum mistis Yahudi tidak membayangkan mereka sungguh-sungguh terbang menembus langit, tetapi menjajarkan citra-citra yang memenuhi pikiran mereka secara tertata dan terkendali. Kaum mistis Yahudi juga tidak menguraikan apa-apa tentang Tuhan. Mereka hanya menceritakan tentang atribut Tuhan yang melindunginya dari tatapan manusia.

Perjalanan ke kedalaman pikiran melibatkan resiko pribadi karena kita mungkin tidak akan mampu memikul apa yang akan kita temukan disana. Itulah sebabnya semua agama mengajarkan bahwa perjalanan mistik hanya mampu dilakukan di bawah bimbingan seorang ahli. Di dalam Kabbalah, spekulasi secara rasional tentang hakikat Tuhan dan persoalan metafisika hubungan Tuhan dengan alam, malah kemudian beralih kepada imajinasi. Kaum Kabbalis juga mengembangkan mitologi sendiri untuk menjelajahi alam kesadaran keagamaan baru.. Orang Yahudi sedari awal telah menyadari adanya bahaya dalam penjelajahan imajiner semacam itu, maka belakangan, mereka tidak mengizinkan anak muda untuk mengikuti disiplin Kabbalah kecuali jika mereka telah benar-benar cukup matang. Untuk melakukannya, dibutuhkan ketrampilan yang besar, konsentrasi pikiran (seperti dalam latihan Zen dan Yoga) dan menuntut latihan dalam suasana hati tertentu.  Bahkan seorang mistikpun juga harus menikah untuk menjamin bahwa dia memiliki kesehatan seksual yang baik!

B.     Agama Kristen

Agama Kristen dapat dikatakan sebagai agama dengan kadar personalisasi yang paling tinggi dan berupaya untuk meningkatkan kelayakan kultus terhadap tuhan yang bereinkarnasi dengan cara memasukkan doktrin tentang trinitas yang trans personal. Di dalam Kristen hubungan dengan Tuhan dicirikan dengan cinta. Cinta yang berarti bahwa ego (dalam pengertian tertentu) telah dilenyapkan.

Ada anggapan bahwa pengalaman mistis hanya merupakan sesuatu yang  secara sengaja diciptakan oleh seorang mistikus di dalam dirinya sendiri. Menurut Paus Gregory, Tuhan yang dikonsepsikannya tetap tersembunyi dari manusia dalam kegelapan yang tak tertembus. Paus menggunakan metafora awan, kabut, atau kegelapan untuk melukiskan kesamaran semua pengetahuan manusia tentang yang ilahi. Tuhan merupakan pengalaman yang menegangkan bagi Gregory. Kita tidak bisa meramalkan perilaku Tuhan berdasarkan pengetahuan kita tentang manusia. Jadi satu-satunya kebenaran dalam pengetahuan kita tentang Tuhan, adalah ketika kita menyadari bahwa kita tidak bisa sepenuhnya mengetahui apa pun tentang Tuhan. Tuhan hanya bisa dicapai setelah kerja keras pikiran. Jalan menuju Tuhan sarat dengan rasa bersalah, air mata, dan keletihan. Ketika jiwa mendekatinya, jiwa tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis karena disiksa oleh hasratnya akan Tuhan. Jiwa hanya bisa menemukan ketenangan dalam air mata karena keletihan.

Di Timur, pengalaman orang Kristen tentang Tuhan lebih dicirikan oleh cahaya daripada kegelapan. Orang Yunani mengembangkan sebuah bentuk mistisisme yang berbeda, yang tidak bergantung pada gambaran atau penampakan, tetapi bersandar pada pengalaman sunyi semacam perenungan. Mereka secara alamiah mengesampingkan konsepsi rasionalistik tentang Tuhan. Tujuan perenungan itu sendiri adalah untuk melangkah melampaui gagasan dan gambaran apapun yang mampu menghambat kehadiran Tuhan. Sikap ini disebut hesychia (keheningan batin). Kristen menemukan cara untuk menemukan Tuhan dengan mengembangkan metode-metode dalam berdoa. Doa membebaskan jiwa dari raga. Di dalam doa, dapat dirasakan energi bukan esensi Tuhan. Energi inilah yang didefinisikan sebagai cahaya keilahian. Dalam Perjanjian lama, energi ini disebut dengan “kemuliaan” Tuhan, sedangkan dalam Perjanjian Baru, energi inilah yang telah menyinari pribadi Kristus di Gunung Tabor, dan kini energi itu menyinari setiap orang yang telah diselamatkan. Kita merasakan energi itu di dalam doa, yang dalam pengertian tertentu, ketika kita berada dalam doa, kita tengah berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun realita realitas yang tak bisa diketahui itu tetap berada di dalam ketersembunyiannya.

Kristen lain yang ada di Barat, lebih merepresentatifkan Tuhan ke dalam kilasan mistik seni lewat ikon patung-patung suci. Hal ini kemudian mempengaruhi Kristen Timur, yang membuat ikon dan visi dapat saling memperkuat satu sama lain. Ikon tersebut dimaksudkan untuk memberikan fokus sebagai jendela orang yang beriman menuju dunia ilahi.

Selama abad ke-14 M, I Eropa Utara terjadi kepesatan agama mistikal. Salah satu tokohnya, Meister Eckhart menyebutkan bahwa doktrin trinitas sebenarnya merupakan sebuah doktrin mistikal. Doktrin Trinitas tidak bisa diketahui oleh akal, namun hanya akallah yang mempersepsikan Tuhan sebagai 3 oknum, namun begitu seorang mistikus telah mencapai penyatuan dengan Tuhan, ia akan melihat Tuhan sebagai sesuatu Yang Esa. Eckhart juga menyukai pembicaraan Tuhan Bapa yang menurutnya telah melahirkan putra di dalam jiwa, mirip seperti perawan Maria yang mengandung Kristus di dalam Rahim.

C.     Agama Islam

Islam merupakan agama yang dibawa oleh Muhammad. Meskipun perhatian utama Nabi Muhammad adalah pada penegakan suatu masyarakat yang adil, beliau dan beberapa sahabat terdekatnya juga memiliki kecenderungan mistik, dan kaum muslim dengan cepat mengembangkan tradisi mistik khas mereka sendiri. Tradisi Muslim menjadikan Khidir sebagai guru bagi semua kebenaran mistik. Khidir adalah guru spiritual Musa yang dianugerahi ilmu istimewa tentang Tuhan.Khidir tidak mengarahkan muridnya untuk sampai pada persepsi Tuhan yang sama bagi setiap orang, melainkan kepada Tuhan yang subjektif dalam pengertian paling dalam dari kata tersebut.

Muhyiddin Ibn-Al Arabi adalah seorang tokoh yang berpengaruh dalam penggabungan filsafat dan mistisisme Islam. Ia menyebut dirinya sebagai murid Khidir. Ibn Al-Arabi tidak percaya bahwa Tuhan memiliki eksistensi objektif. Eksistensi Tuhan tidak dapat dibuktikan melalui logika. Tuhan adalah realitas suci yang tidak terbatas, maka dari itu, Tuhan tidak dapat diringkas dalam 1 ekspresi manusiawi. Ketuhanan dan kemanusiaan adalah 2 hal yang berbeda, namun keduanya merupakan 2 aspek kehidupan ilahiah yang menggerakkan seluruh kosmos. Ibn-Al Arabi tidak menerima gagasan yang menyataan bahwa 1 orang manusia, seberapapun sucinya, bisa menampung ketidakterbatasan realitas Tuhan. Sebaliknya, ia prcaya bahwa tiap-tiap pribadi manusia merupakan avatar unik bagi yang ilahi. Namun demikian, Ibn-Al Arabi mengembangkan simbol Manusia Sempurna, yang tentu saja, bukan seorang inkarnasi dari realitas yang tak terbatas. Misalnya, Nabi Muhammad SAW yang merupakan Manusia Sempurna bagi generasinya dan merupakan simbol ketuhanan yang paling efektif.

Islam ternyata juga mengalami Mistisisme Mahkota milik Yahudi yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Diriwayatkan Muhammad pernah mendapat pengalaman yang sangat mirip dengan pengalaman Mistisisme Mahkota milik Yahudi ketika beliau melakukan perjalanan malamnya (isra’) dari Arab ke Masjidil Aqsha di Yarusalem. Di dalam lelap tidurnya, dia dibawa oleh Jibril dengan berkendaraan seekor kuda langit. Setibanya disana, dia disambut oleh serombongan nabi terdahulu yang meneguhkan misi kenabian Muhammad sendiri. Setelah itu, Jibril dan Muhammad mulai melakukan pendakian (mi’raj) melewati 7 lapis langit dan berhasil mencapai wilayah ilahi. Muhammad tidak melihat Tuhan secara langsung, tetapi hanya simbol-simbol yang mengarah pada realitas ilahi. Pendakian ke langit adalah simbol jangkauan terjauh ruh manusia, yang menandai gerbang makna tertinggi. Kaum Muslim yang berspekulasi tentang kenaikan Muhammad ke langit menekankan watak paradoks penampakan Tuhan yang dialaminya selama perjalanan itu, dia melihat sekaligus tidak melihat kehadiran Tuhan.

Selama abad 8-9 M bentuk Islam asketik berkembang bersamaan dengan perkembangan sekte – sekte lain. Kaum astetik itu, sebagaimana kaum Mu’tazilah dan Syiah, memprihatinkan kehidupan mewah kelompok penguasa dan mengusahakan untuk kembali ke kehidupan  sederhana yang dijalani kaum Muslim awal di Madinah. Berdasarkan hal itulah mereka disebut sebagai “sufi”. Cinta kepada Tuhan merupakan ciri khas sufisme Mereka berharap bisa merasakan pengalaman tentang Tuhan yang sama dengan yang dialami oleh Muhammad ketika menerima wahyu.  Dengan sendirinya mereka juga terpengaruh oleh peristiwa pendakian mistikal Nabi ke langit.

Di dalam kemistisan sufi Islam, terdapat 2 tipe sufi yang dibagi menjadi sufi yang “mabuk” akan Tuhan, dimana  sufi-sufi ini mempraktekkan prilaku yang tampak aneh dan tak terkendalikan yang mendekati Tuhan sebagai kekasih. Salah satu tokohnya adalah Abu Yazid Bistami. Adapun sufi yang “tidak mabuk” lebih menyukai spiritualitas yang tidak terlalu mencolok. Salah satu tokohnya Al-Junaid dari Baghdad memetakan landasan mistisisme Islam masa depan, berkeyakinan bahwa ekstremisme Bistami bisa menimbulkan bahaya. Al-Junaid sepenuhnya sadar akan bahaya mistisisme. Bagi orang-orang yang tak terlatih dan tidak memiliki bekal dari seorang ahli, akan dengan mudah menyalahpahami ekstasi seorang mistik dan secara simpilistik mengambil gagasan yang menyatakan kebersatuannya dengan Tuhan.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> Sumber bacaan : Armstrong, Karen, 1993, Sejarah Tuhan, Mizan, Bandung.

Tags: , , ,

AUTHOR

# Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

Artikel Terkait

13 tanggapan untuk “Filsafat Agama: Tuhan Kaum Mistik”

  1. April 18th, 2009 at 00:52 | #1

    no comment ah kalo ngomongin agama, rada sensi

  2. Ari
    September 27th, 2009 at 02:02 | #2

    aku suka pemikiran kamu, tapi boleh tahu gak untuk apa agama itu di ciptakan dan kenapa harus ada agama??? makasih

    • aprillins
      September 27th, 2009 at 02:27 | #3

      Agama diciptakan? Kalau menurut saaya agama diciptakan itu untuk mensistematisasikan tindakan yang harus dilakukan oleh umatnya. Agama berisi berbagai argumen mengapa kita harus melakukan ini dan itu, agama pun isinya ajaran tentang kebaikan. Agama menyatukan visi dan misi manusia ketika hidup di muka bumi ini.

      Harus ada agama ya? Itu ibaratnya seperti seorang anak yang memiliki orang tua. Agama sebagai pembimbing jalan hidup. Berbeda polah dan tingkah laku seorang anak yang dibesarkan dengan orang tua atau tidak. Begitu juga perbedaan antara manusia yang mengenal agama atau tidak. Misalnya, saya mengenal agama A yang melarang bahwa pembunuhan itu adalah perbuatan dosa maka saya akan lebih berpikir untuk melakukan pembunuhan, tetapi orang yang tidak punya agama mereka hanya punya 1 konsep berpikir, bunuh atau tidak ya? Ya kira-kira seperti itu.

  3. edhy cirrang
    April 6th, 2010 at 18:49 | #4

    selama ini mistik selalu ditanggapi salah,dalam artian bahwa mistik selalu dianggap yang berhubungan dengan roh-roh jahat. Padahal kalau kita cermati dengan baik ada sisi positifnya yang bisa dikembangkan dalam gereja. ini yang aku coba kembangkan dalam bentuk skripsi saya. Pengembangan mistik dalam gereja. selama ini kita selalu beribadah, tetapi pemusatan pikiran untuk beribadah kepada Yang Transenden tidak pernah kita lakukan. kita beribadah hanya sekedar formalitas belaka,kita beribadah karena malu dilihat tetangga kita. mohon masukan……..!!!!

  4. sjyamiel buamona
    October 6th, 2010 at 10:17 | #5

    saya ber-TUHAN tapi tidak beragama. bagi saya kata itu sangat cock karena kalau mau dilihat sekarang ini agama teleh mengalami proses politisasi untuk kepentingan sekelompok orang.

  5. November 23rd, 2010 at 15:54 | #6

    saya kurang setuju sama saudara “edhy cirrang” karena beliau mengatakan bahwa mistik tu ada positifnya, bagi saya itu hanya sebuah cerita dari masing2 daerah agar bisa mempertahankan kerajaan atau kebudayaannya. anda tau ga kalau mistik itu sudah berarti bertentangan dengan ajaran umat islam, MENGAPA? karena itu sudah menduakan tuhan, dalam artian kita akan melupakan tuhan dan kita selalu memfokuskan diri kepada barang2 berhala, seperti mistis atau yang bertentangan dengan agama.

  6. abraham
    February 3rd, 2011 at 20:23 | #7

    Tuhan yang lebih tinggi derajatnya atau Agama??
    bagi saya agama adalah kepentingan sekarang.

  7. agung nugraha
    April 22nd, 2011 at 19:21 | #8

    TIDAK ADA AGAMA DAN TIDAK ADA TUHAN yang ada itu manusia menciptakan nama tuhan

  8. bandit
    May 31st, 2011 at 20:07 | #9

    MEMANG,DALAM KEHIDUPAN SEHARI2 KITA GAK MERASAKAN ADANYA TUHAN

  9. Killer
    October 25th, 2011 at 05:04 | #10

    Pokoke asu kabeh seng ra nduwe agama kii wkowkowkowkowkwo

  10. edrhi
    February 25th, 2012 at 11:32 | #11

    akal diciptakan untuk mengenal tuhan, sebagai tanggung jawab manusia hidup dimuka bumi

  11. andy mustakkim
    July 25th, 2012 at 16:58 | #12

    saya pingin nanya ni..? Mungkinkah Tuhan itu ada jika insan dan jagad raya ini tidak diciptakan,dan seberapa rumit hubungan masalah ini jika dikatakan Manusia diciptakan unt menyembah dan mengakui keberadaanNya.

  12. GAluh Argoo
    September 13th, 2012 at 17:12 | #13

    Ketika sampai disini……Seperti apa diriku hari ini,…..dilarikan….kebarat menjadi rembulan…….aku adalah bulan, dihempaskan ketimur menjadi mentari, aku adalah mentari…….tuk menjadi apa yang diinginkanya……….seperti bunga, dengan semerbak cinta & kasih……….

Silakan Beri Komentar