Diskriminasi Rasial Dan Etnis Suatu Persoalan Etika

Diskriminasi rasial dan etnis merupakan sebuah kenyataan hidup untuk banyak orang. Meski pun untuk bentuk-bentuk yang lebih menyolok telah berkurang di negara-negara tertentu dalam 30 tahun terakhir dan sesudahnya, diskriminasi masih terus berlangsung di berbagai bidang kehidupan. Di Amerika Serikat, secara ekonomi masih ada upah yang tak sama. Pada 1992, perempuan dan kelompok minoritas mendapatkan upah rata-rata 75 sen untuk setiap dolar upah yang diterima oleh laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Selanjutnya, banyak pekerjaan yang diinginkan masih tanpa tenaga kerja dari kelompok minoritas atau perempuan. Situasi ini merujuk pada “kaca pembatas” sendiri. Dan hambatan-hambatan yang tidak kentara dalam pasar pekerjaan yang mempertahankan pekerjaan perempuan dan kelompok minoritas “di tempat mereka” sendiri. Upah rendah terutama merupakan cara utama yang efektif untuk memelihara kelompok-kelompok orang tetap pada posisi kemasyarakatan yang lebih rendah dan menghalangi akses mereka yang sama terhadap kekuasaan politik, sosial, dan ekonomi.

Ada kesepakatan luas bahwa diskriminasi terhadap perempuan dan kelompok minoritas yang didasarkan pada karakteristik gender atau etnis secara moral adalah salah. Praktek-prakter diskriminasi ini memperkosa prinsip persamaan. Meski pun tidak diterima secara universal, prinsip ini mengharuskan hal-hal yang sama, diperlakukan secara sama, dan hal-hal yang tidak sama juga diperlakukan secara tidak sama. Sebuah perlakuan seharusnya didasarkan pada kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan di antara individu-individu. Perbedaan-perbedaan yang relevan dalam kontrak kerja adalah hal-hal yang terkait dengan penampilan pekerjaan. Misalnya, untuk posisi mekanik, orang membutuhkan terlatih dan terdidik yang tepat untuk memenuhi syarat-syarat sertifikasi. Sex dan ras bukanlah ciri yang relevan untuk sebuah pekerjaan dan menolak pekerjaan seseorang berdasarkan ciri-ciri ini melanggar prinsip persamaan. Biasanya, prinsip persamaan tidak dilanggar bila diskriminasi itu berdasarkan perbedaan-perbedaan yang relevan seperti pendidikan dan kemampuan. Kemudian, diskriminasi berdasarkan ras tidak selalu melanggar prinsip persamaan misalnya, hanya orang kulit hitam yang mencoba permainan Othelo, karena permainan ini bagian dari seruan untuk orang berkulit hitam. Apa yang secara moral tidak dapat disetujui adalah diskriminasi berdasarkan ciri-ciri yang tak relevan.

Namun demikian, tidak ada kesepakatan luas tentang bagaimana membenarkan praktek-praktek masa lalu dan sekarang yang secara sistematis mendiskriminasikan perempuan dan kelompok minoritas. Sebuah prinsip persamaan mensyaratkan hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dalam urusan kontrak, promosi dan upah. Bila prinsip persamaan membawakan kebenaran moral, maka para pekerja secara moral diwajibkan untuk tidak melanggar prinsip ini. Selanjutnya, ada kewajiban hukum di Amerika Serikat yang tidak mendiskriminasi berdasarkan ciri-ciri tidak relevan seperti ras dan etnis. Namun, apakah bisnis atau bukan yang harus menanggung kewajiban ini dan mengadopsi kebijakan yang menghargai kelompok minoritas atau perempuan secara aktif adalah hal yang kontroversial. Affirmative Action adalah salah satu dari kebijakan itu.

Program-program Affirmative Action jauh dari rekruetmen minoritas dan perempuan yang berkualitas secara aktif. Meski pun para pelamar dari kelompok minoritas dan perempuan dikualifikasi secara tak sama, untuk menciptakan sistem kuota kontrak dari sejumlah minoritas dan perempuan. Meski pun 3 dari keseluruhan adalah program perlakuan prevensial, dua terakhir mengundang kontroversi sengit. Affirmative Action sering dikritik sebagai melestarikan kerusakan yang harusnya dicegah, dan karena alasan ini beberapa penentangnya Affirmative Action “melakukan diskriminasi.” Mereka menjelaskan bahwa Affirmative Action menggunakan ciri-ciri secara moral tidak relevan sama dengan yang digunakan dalam diskriminasi rasial yang tak adil, dan karenanya inkonsisten secara moral tak dapat dibenarkan. Para pendukung Affirmative Action menjelaskan bahwa program itu adalah fair dan konsisten, serta perlu untuk mengkoreksi ketakadilan masa lalu. Para pendukungnya juga menjelaskan bahwa tanpa intervensi aktif, para pelamar kerja dari kelompok minoritas tidak akan dapat mengakses pekerjaan yang berharga secara fair dalam masyarakat. Di Amerika Serikat kuota tetap telah diatur secara tak konstitusional; namun, berkurangnya minoritas dalam berbagai profesi barangkali merupakan “pemaksaan kepentingan negara,” dan rekruetmen aktif untuk mengkoreksi ketakseimbangan ini akan diterima secara legal.

Bernard Boxill berbicara pemaksaan kepentingan itu dan menjelaskan sesuai dengan kebijakan-kebijakan kesadaran-kulit berwarna semacam Affirmative Action. Boxill menjelaskan perlunya minoritas terwakili dalam profesi, seperti kebutuhan akan pengacara kulit hitam. Boxill menegaskan bahwa seorang dokter atau pengacara yang berkulit hitam lebih rela memberikan pelayanan kepada orang lain yang tidak akan menerimanya. Dia berpendirian bahwa kebijakan bahwa kebijakan buta-warna melibatkan harga diri yang terlalu mahal, lantaran kebijakan itu mengimplikasikan bahwa orang harus tidak diperlakukan secara berbeda hanya karena mereka dilahirkan dengan kulaitas-kualitas seperti berkulit hitam. Namun masyarakat tidak menilai kulit hitam dan mendiskriminasikan, kemudian menjelek-jelekkan kekurangan kaum profesional kulit hitam. Mengenai penerimaan orang-orang kulit hitam terhadap konsiderasi yang fair, dia mengusulkan sebuah bentuk kebijakan kesadaran-warna yang baik di mana perbedaan-perbedaan dan ciri bawaaan dibebankan secara sama. Dia menyimpulkan kebijakan-kebijakan kesadaran-warna dapat dibenarkan, demikian pula dengan kebijakan-kebijakan berdasarkan ciri-ciri bawaan.

Shelby Steele menjelaskan bahwa Affirmative Action tidak tepat karena kebijakan itu menghina seseorang Steele memfokuskan Affirmative Action sebagai sebuah bentuk perbaikan. Menyangkut perbaikan, dia menjelaskan bahwa Affirmative Action merupakan bentuk pembayaran kembali atas diskriminasi masa lalu terhadap kelompok minoritas dan perempuan. Steele mengatakan bahwa para penerima Affirmative Action ini bukan saja melihat diri mereka jahat tetapi juga menanamkan status jahatnya supaya menerima posisi-posisi tertentu. Investasi ini menghasilkan balasannya karena status kejahatan mereka dari pada di luar status dan percaya diri. Tambahan, dia menjelaskan bahwa preferensi-preferensi Affirmative Action bagi kulit hitam mengimplikasikan bahwa mereka hanya diberikan posisi karena kulit hitamnya bukan karena kemampuannya. Persepsi ini kemudian menandai cap inferior untuk kulit hitam dan cap superior untuk kulit putih. Pada akhirnya, Steele menjelaskan bahwa Affirmative Action mengabaikan kebutuhan kerja yang mahal, sulit dan secara moral memberikan kesempatan yang otentik yang sama melalui perkembangan pendidikan dan ekonomi, dan mengakhiri seluruh diskriminasi rasial, gender, dan etnis.

Kwame Anthony Appiah membahas konsep rasisme. Appiah membedakan antara rasialisme, rasisme intrinsik dan rasis ekstrinsik. Rasialisme, kata dia, adalah suatu keyakinan bahwa ada karakteristik-karakteristik intrinsik dan spesifik dari ras-ras yang tidak dibagi di antara ras. Karakteristik ini memungkinkan ras-ras dibedakan dari ras yang lain. Rasisme ekstrinsik menegaskan bahwa ras-ras menuntut perlakuan yang berbeda secara moral karena ciri-cirinya yang inheren. Rasisme intrinsik adalah suatu kepercayaan bahwa setiap ras memiliki status moral yang berbeda, terlepas dari karakteristik-karakteristik ras. Rasisme intrinsik sering diasosiasikan dengan parsialitas bagi ras mereka sendiri. Appiah menegaskan bahwa membantu disposisi rasis melibatkan penipuan-diri, karena ia membutuhkan satu kepercayaan bahwa ada perbedaan di antara ras yang secara moral relevan.  Appiah menyatakan seluruh bentuk rasisme secara moral adalah salah, karena rasisme melanggar desakan untuk memanfaatkan basis-basis yang hanya relevan secara moral untuk membuat perbedaan-perbedaan moral, dan membolehkan orang untuk lari dari tuntutan-tuntutan moral universal.

Laurence Thomas mempersoalkan asumsi yang biasa dipegangi bahwa rasisme dan seksisme adalah sama. Meski pun perempuan dan kelompok minoritas diperlakukan secara sama, dia mengatakan ada perbedaan konseptual yang fundamental antara rasisme dan seksisme. Satu contoh yang Thomas munculkan adalah bahwa karena perempuan diperlukan untuk melanjutkan keturunan, laki-laki tidak akan menarik diri sepenuhnya dari perempuan, tetapi tidak ada basis natural semacam itu bagi kulit putih untuk bertahan di sekitar kulit hitam.

Thomas menjelaskan bahwa identitas laki-laki secara fundamental terletak pada pandangan-pandangan seksisnya tentang perempuan, sementara identitas kulit putih tidak terletak secara fundamental pada keberadaan ras. Misalnya, Thomas mengklaim bahwa gerakan perempuan yang memimpin laki-laki untuk membentuk kelompok-kelompok terkait dengan tantangan-tantangan identitas maskulinnya, sementara gerakan hak-hak sipil oleh kulit putih tidak menghasilkan tindakan yang sama. Thomas menamakan tesisnya dengan Rasial dan Sexual Identity Thesis (Tesis RSI) bahwa seksisme lebih memusat pada identitas daripada rasisme. Thomas menyimpulkan bahwa rasisme dan seksisme adalah dua penyimpangan sosial yang berbeda dan jelas, dan sejalan dengan tesis RSI, pandangan-pandangan rasis lebih mudah mengeliminasi daripada pandangan-pandangan seksis. Sembari mengakui bahwa rasisme tidak hanya diterapkan pada kulit hitam, Thomas membatasi diskusinya tentang rasisme terhadap kulit hitam. Jadi, Thomas melambangkan pendekatan tradisional tentang rasisme yang dipersoalkan oleh Vine Deloria Jr.

Deloria menegaskan bahwa rasisme lebih banyak daripada persoalan hubungan kulit putih dan kulit hitam. Dia menuduh bentuk-bentuk rasisme terhadap orang-orang Amerika keturunan Afrika dan Indian adalah sangat berbeda. Orang-orang Amerika keturunan Afrika diabaikan dan secara sistematis diasingkan dari masyarakat, sementara orang-orang Amerika keturunan Indian diperkuat untuk diasimilasikan. Satu contohnya adalah bahwa orang-orang kulit hitam tidak boleh mengasuh anak-anaknya di rumah-rumah mereka dan mengirimkannya ke sekolah-sekolah kulit putih di mana mereka dididika kebudayaan kulit putih secara kuat, sebagaimana anak-anak Indian. Orang-orang Amerika  keturunan Indian masih diperkuat untuk diasimilasi, sebagaimana dicontohkan dalam keputusan Supreme Court yang mengingkari penggunaat peyote dalam agama Indian Amerika, dan melanjutkan penolakan untuk menghormati kuburan suci. Lebih dari itu, pemisahan kulit hitam-putih masih menjadi bagian pengalaman kita yang terbesar. Deloria menegaskan bahwa pemecahan masalah rasial mensyaratkan pemahaman dan tanggung jawab orang kulit putih atas masa lalu dengan menghadapkan rasisme sebagai masalah yang telah dia ciptakan dalam dirinya sendiri dan dalam diri orang lain.

Mengambil tanggung jawab terhadap sikap-sikap rasis seseorang merupakan satu pangkal tolak dalam memahami persoalan rasial. Lary May mengusulkan akuntabilitas moral tersebut. Dia membahas peran sikap-sikap rasis dalam memfasilitasi motivasi-motivasi yang secara moral merusak. May menegaskan bahwa iklim rasis meningkatkan kemungkinan kerusakan yang dimotivasi secara rasial. Iklim ini diciptakan oleh orang yang berperilaku rasis, dan meski pun orang ini bukanlah penyebab langsung kejahatan rasial, sikap-sikap mereka seringkali andil dalam kerja sama di mana semua anggota berbagi tanggung jawab moral atas kerusakan itu. May menjelaskan bahwa terus menerus memegangi sikap-sikap rasis yang jelas memberi kontribusi terhadap iklum moral yang memperbolehkan penyakit rasial merupakan bentuk kesemberonoan tingkah laku. Orang yang memamerkan tingkah laku serampangan berbagi tanggung jawab atas resiko kerusakan yang terjadi. Meski pun perilaku yang sebenarnya menyebabkan kerusakan secara legal adalah salah, tanggung jawab moral tidak hanya bersandar padanya. Untuk memulai pemahaman atas tanggung jawab seseorang terhadap rasisme mensyaratkan orang mengambil langkah pembatasan terhadap sikap-sikap rasis seseorang dan menolak andil dalam iklim rasis.

Shari Collins -Chobanian

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

Artikel Terkait

Belum ada tanggapan untuk “Diskriminasi Rasial Dan Etnis Suatu Persoalan Etika”

Silakan Beri Komentar