Mengajari Manusia Berpikir Secara Filosofis

Manusia bisa berpikir, lalu mengapa manusia harus berpikir selayaknya manusia yang lain? Mengapa manusia seolah-olah harus menuruti apa yang orang lain pikirkan? Mengapa orang mengangguk-angguk mengagumi pikiran orang lain sehingga cita-citanya hanya sebatas mencapai orang yang Ia kagumi? Semua itu adalah perbuatan dosa! Dosa karena Anda tidak memanfaatkan otak Anda dengan sebaik-baiknya.

Tidakkah Anda pernah berpikir “mengapa saya hidup?” Tentu saja jika Anda manusia sungguhan pasti pernah memikirkan hal itu, dan tentu saja jawaban orang bisa berbeda-beda. Perbedaan itulah yang bisa disebut berpikirnya Anda secara filosofis. Anda memiliki pikiran sendiri tentang hidup Anda. Tidak ada alasan bagi Anda untuk berpikir sama dengan orang lain, mengapa? Sekarang silakan jawab pertanyaan saya di bawah ini

  1. Apakah Anda benar-benar mengetahui apa yang orang lain pikirkan ketika Ia melihat sebuah rumah?
  2. Apakah ketika teman Anda sedang tidur, Anda mengetahui apa yang Ia mimpikan, atau malah Ia tidak bermimpi?
  3. Apakah ketika Anda melihat orang lain kecelakaan, Anda benar-benar merasakan apa yang Ia alami?
  4. Apakah ketika pacar Anda sedang menggosok gigi, Anda merasakan rasa mint pada pasta gigi?
  5. Apakah Anda mengetahui bahwa bulan mempunyai nyawa?

Jika Anda menjawab YA untuk keseluruhan pertanyaan, mungkin Anda adalah seorang cenayang, Tuhan, atau bahkan Anda seorang penipu. Namun ketika Anda menjawab TIDAK, maka Anda bisa melegakan diri Anda karena Anda bukanlah seorang penipu melainkan seseorang yang masih sadar diri dan perlu banyak belajar. Dari 5 pertanyaan di atas ada hal penting yang mau saya utarakan adalah bahwa:

Manusia memiliki keunikan pandangan, tempat, dan perasaan dari manusia lainnya. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak berpikir dengan cara Anda sendiri. Dengan berpikir melalui cara Anda sendiri maka Anda sudah memulai untuk berpikir secara filosofis.

Yakinkanlah diri Anda bahwa Anda memiliki mata, sudah? Lalu yakinkanlah diri Anda bahwa Anda memiliki perasaan, sudah? Terakhir yakinkanlah Anda berada dalam pijakan yang tentunya berbeda dengan orang sekitar Anda, Sudah? Perbedaan itulah yang merupakan tempat Anda berpijak untuk mengeluarkan pikiran ASLI Anda, bukan imitasi. Cara berpikir filosofis ini merupakan cara berpikir agar manusia tidak dibodoh-bodohi oleh manusia lainnya, tetapi ingat! Bahwa pemikiran Anda bisa membawa kebodohan bagi diri Anda di mata orang lain, maka pandai-pandailah berpikir. Tentu saja Anda memiliki kapasitas masing-masing untuk menilai pemikiran mana yang seharusnya Anda publikasikan dan pemikiran mana yang seharusnya dipendam dalam pikiran sehingga menjadi kepuasan tersendiri saja. Kepuasan terhadap pemikiran sendiri bukan berarti kepuasan bagi orang lain. Jika orang lain juga ikut-ikutan berpikir dengan cara yang saya paparkan sedikit panjang lebar ini, mungkin Ia bisa saja tidak puas dengan pemikiran Anda dan bisa juga Anda tidak puas dengan pemikiran dia.

Katakanlah “Ini pikiran saya!” dan katakan “Anda tidak bisa berpikir dengan otak saya!” Dengan ini maka Anda sudah bisa melanjutkan berpikir dengan cara Anda sendiri, bukan cara orang lain.

Tags: , , , ,

AUTHOR

# Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

Artikel Terkait

5 tanggapan untuk “Mengajari Manusia Berpikir Secara Filosofis”

  1. October 21st, 2009 at 09:40 | #1

    Saya sering berpikir tentang “Tatwamasi”, “Aku adalah kamu”. Bukan mencoba berpikir seperti orang lain, tapi mencoba menempatkan diri sendiri di posisi orang lain.

    Meski relatif, namun konsep bahagia atau tidak setiap manusia umumnya sama. Tidak ada manusia yang suka dipukul. Tidak ada manusia yang suka dihina. Dengan menempatkan diri kita di posisi orang lain akan membuat kita lebih bisa menghargai orang lain.

    Bayangkan bisa setiap orang bisa menerapkan hal ini. What a wonderfull life… :)

    • October 21st, 2009 at 10:18 | #2

      Tepat sekali..! Dengan pemikiran Gandhi pun cocok! Gandhi mengajarkan tenggang rasa semacam itu, tetapi gandhi mencapai tahapan yang lebih tinggi lagi!
      Manusia tidak akan pernah bisa secara komuni menerapkan hal tenggang rasa seperti ini dikarenakan tingkat konsentrasi bagaimana orang bisa menyikapi persoalan sangatlah berbeda-beda. Ada yang egois banget, ada yang pengertian banget.. bukti bahwa tidak semua orang bisa menetapkannya adalah masih ada orang di penjara ehueheue :)

  2. October 26th, 2009 at 10:36 | #3

    berpikir…
    inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain

  3. October 26th, 2009 at 10:39 | #4

    lha kemana komentar tadi?

  4. Nila Amania
    August 23rd, 2011 at 10:58 | #5

    shiip lah .. ..
    tapi bukan menjadi orang lain tapi sekedar menjadikan motivator dari diri seseorang tersebut, tidak imitatif.

Silakan Beri Komentar