Langganan artikel
  • Home
  • Rekan
  • Layanan
  • Media Iklan
  • Informasi Situs
    • Privacy Policy
  • Pranala Luar
    Artikel Selanjutnya
    Artikel Sebelumnya

    Mempelajari Etika Makan Suatu Tinjauan Filosofis

    Makan! Makan! Makan! Ya makan adalah sesuatu yang alami dialami oleh semua makhluk hidup. Tumbuhan, Binatang, dan Manusia semuanya bisa makan. Kucing, anjing, babi, kuda, kambing, sapi, dan hewan lainnya juga makan. Manusia tidak bisa disamakan dengan tumbuhan mau pun binatang karena manusia memiliki rasa. Manusia memiliki sebuah potensi untuk membedakan mana yang sedap yaitu suatu perpaduan rasa dari bumbu-bumbu atau sebuah bahan dasar makanan. Makanan juga memiliki segi sosialnya, misalnya dengan memakan makanan tertentu bisa kelihatan orang macam apa dia. Contoh: orang bisa menilai siapa si A yang memakan Lasagna setiap hari dan juga bisa menilai si B yang memakan hanya nasi dari beras jelek dan ampas tahu. Kelihatan perbedaan antara si A dan si B, dari makanan ini orang bisa memilah banyak perbedaan, oleh sebab itu maka pemilahan inilah yang menjadi segi etis apabila memakan sesuatu atau ketika akan memakan sesuatu.

    Tulisan di sini bukanlah merupakan etiket makan atau tata krama makan, tetapi merupakan ETIKA MAKAN yang lebih universal dan bisa diterapkan bagi seluruh manusia. Persoalan etika makan ini bukan mempersoalkan bagaimana cara makan yang benar seperti:

    • Menggunakan tangan kiri atau kanan?
    • Makan di kasur atau di meja?
    • Makan itu bagusnya memejamkan mata atau kedap-kedip saja?
    • Makan mana yang lebih keren, pakai sendok atau tangan kosong?

    Persoalan etika makan bukanlah hal etiket makan, karena antara Etika makan dan Etiket makan itu berbeda. Pertanyaan tentang etika makan lebih mengarah kepada keumuman yang dapat terjadi pada seluruh umat manusia seperti:

    • Pantaskah membuang-buang makanan?
    • Ketika dunia sedang dilanda kelaparan dan kemiskinan, apakah baik jika kita membeli makanan cemilan yang mahal?
    • Pantaskah menghidangkan makanan pada penganut agama tertentu yang memiliki ajaran bahwa makanan tersebut haram?

    Ada 2 contoh yang bisa ditarik menjadi bahan perbincangan yaitu:

    1. Ketika orang lain berpuasa maka pantaskah orang yang tidak berpuasa makan dengan tamak di depan orang yang sedang berpuasa tersebut, banyak orang berkata tidak pantas. Jikalau Anda mengatakan bahwa itu pantas maka mungkin Anda memang tidak memiliki tenggang rasa. Inilah segi etis ketika berhubungan langsung dengan objek etika makan, ada si pelaku (si pemakan), ada si bukan pelaku (orang biasa yang sedang tidak makan).
    2. Setiap orang memiliki hak untuk menentukan apa yang Ia makan dan memilih tempat ketika Ia akan memakan makanan tersebut. Ketika orang memilih tempat yang tidak ada orang lain yang melihat, atau tidak ada orang yang sedang berpuasa, tetap saja Ia bisa terkait oleh persoalan etika lagi. Sebelumnya, etika mementingkan beberapa aspek 2 diantaranya adalah pertimbangan moral sosial dan pertimbangan hati nurani. Ketika orang sedang sendiri dia melepaskan diri dari kehidupan sosial secara riil (terpisah antara orang A dan orang B), namun dia tidak akan bisa terlepas dari hati nuraninya. Pertanyaan yang diajukan terhadap diri sendiri adalah “Apakah saya pantas memakan makanan yang sangat mahal ini ketika teman saya yang jauh di sana sedang membutuhkan makan?” Pertimbangan etis seperti itulah yang jadi persoalan etika makan.

    Inilah yang disebut sebagai pertimbangan filsafat moral tentang makan, sekarang pertanyaannya apakah Anda sudah memahami bagaimana Anda seharusnya menyikapi tentang persoalan kelaparan dan kemiskinan? Kalau Anda sudah bisa menjawab dan bisa mengambil sikap berarti

    Anda sadar akan betapa pentingnya makanan bagi kehidupan


    AUTHOR

    aprillins # Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

    Artikel Terkait

    • Etiket Menuliskan Skrip PHP dan HTML
    • Tujuan Hidup Saya Secara Filosofis
    • Definisi Etika: Pengenalan Terhadap Filsafat Moral
    • Bermoralkah Pemujaan Sarana di atas Tujuan?
    • 2 Teori Etika: Utilitarisme dan Deontologi
    • Tiga Teori Etika Lingkungan: Egosentris, Homosentris, dan Ekosentris
    • Keterampilan Praktis Setelah Mempelajari Filsafat

    11 tanggapan untuk “Mempelajari Etika Makan Suatu Tinjauan Filosofis”

    1. seti@wan
      October 21st, 2009 at 03:16 | #1
      Reply | Quote

      Wah… tampilannya baru lagi nih. tambah mantap.

      • aprillins
        October 21st, 2009 at 03:41 | #2
        Reply | Quote

        iya neh pak iwann.. gara2 ini jadi pospon berapa lama tuh.. huhuuhuhu..

    2. seti@wan
      October 21st, 2009 at 03:17 | #3
      Reply | Quote

      Makanlah ketika lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.

    3. PUTRI MALU
      October 21st, 2009 at 03:18 | #4
      Reply | Quote

      mampir pertama,… Salam kenal.

      • PUTRI MALU
        October 21st, 2009 at 03:18 | #5
        Reply | Quote

        ditunggu kunjungan baliknya.

      • aprillins
        October 21st, 2009 at 03:40 | #6
        Reply | Quote

        salam kenal juga nih.. ehehh udah berkunjung.. tentang melati ya

    4. nahdhi
      October 21st, 2009 at 04:29 | #7
      Reply | Quote

      Utamanya makan juga soal rasa.

      • aprillins
        October 21st, 2009 at 05:25 | #8
        Reply | Quote

        ya soal rasa memang tapi ada yang penting dari rasa yaitu kehidupan :)

    5. miawruu
      October 21st, 2009 at 21:58 | #9
      Reply | Quote

      benar-benar filosofi tata cara makan. sederhana tapi sering dilupakan orang. mantap bro

    6. fanny
      October 25th, 2009 at 08:23 | #10
      Reply | Quote

      yg pasti jangan suka buang2 makanan krn sekarang cari uang susah. sementara byk orang yg kurang makan krn gak punya duit.

    7. dussell
      April 28th, 2010 at 22:31 | #11
      Reply | Quote

      aq suka artikelnya semua.
      kirim lg yg terbaru yah.

    Silakan memberi tanggapan

    Batalkan memberi komentar

    Kategori Artikel

    • Aksiologi
    • Epistemologi
    • Etika
    • Etika Bisnis
    • Etika Lingkungan
    • Etika Politik
    • Etika Teknologi
    • Filsafat Agama
    • Filsafat Kebudayaan
    • Filsafat Ketuhanan
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Manusia
    • Filsafat Pendidikan
    • Filsafat Politik
    • Filsafat Sosial
    • Filsuf
    • Kontemplasi
    • Kosmologi
    • Metafisika
    • Sejarah Etika

    Artikel Terbaru

    • Teori Koresponden: Ujian Persamaan dengan Fakta
    • 8 Prinsip Postulat Ilmiah, Aksioma, dan Konsep
    • Common Sense, Subjektivisme dan Objektivisme
    • Pandangan Objektivisme dan Subjektivisme Ekstrim Akan Gagal
    • Menanggapi Persoalan Moral dan Budaya dari Attayaya
    • Gottfried Wilhelm Leibniz – Doktor Pada Usia 20 Tahun
    • Rene Descartes – Rasional dan Skeptisisme
    • David Hume – Skeptisisme dan Empirisme
    • Teori Kebenaran Menurut William James
    • Aurellius Augustinus Hipponensis Antara Kristen dan Filsafat
    Aprillins © 2008-2010 | aprillins.com powered by Advanced Wordpress
    All content are protected. Copying are limited by showing a link in your bibliography
    TopOfBlogs