Langganan artikel
  • Home
  • Rekan
  • Layanan
  • Media Iklan
  • Informasi Situs
    • Privacy Policy
  • Pranala Luar
    Artikel Selanjutnya
    Artikel Sebelumnya

    Tiga Teori Etika Lingkungan: Egosentris, Homosentris, dan Ekosentris

    Teori etika lingkungan hidup ini diharapkan mampu menimbulkan pemahaman baru terhadap masalah lingkungan hidup yang tidak terpisah dari kosmologi tertentu yang dalam kenyataannya tidak menumbuhkan sikap eksploitatif terhadap alam lingkungan. Pengembangan etika lingkungan hidup diperlukan utuk mengendalikan adanya perubahan secara mendasar dari pandangan kosmologi yang menumbuhkan sikap hormat dan bersahabat dengan alam lingkungan (J. Sudriyanto, 1992:13).

    Krisis ekologi dewasa ini telah meluas dan sangat berpengaruh pada pandangan kosmologi yang menimbulkan eksploitasi terhadap lingkungan. Relevansi pemikiran untuk memberikan landasan filosofis yang lebih mahal dan cocok semakin diperlukan. Semuanya ini terfokus pada manusia, sebagai peletak dasar dari semua permasalahan ini, serta mencari kedudukannya dalam seluruh keserasian alam yang menjadi lingkungan hidupnya. Maka, suatu etika yang mampu memberi penjelasan dan pertanggungjawaban rasional tentang nilai-nilai, asas dan norma-norma moral bagi perilaku manusia terhadap alam lingkungan ini akan sulit didapatkan tanpa melibatkan manusia.

    Masalah ekologi tidak cukup dihadapi dengan mengembangkan etika lingkungan hidup. Kalau sudah menyangkut kesejahteraan masyarakat, pemikiran etis saja tidak akan berdaya tanpa didukung oleh aturan-aturan hukum yang dapat menjamin pelaksanaan dan menindak pelanggarnya. Untuk itu perlu diketahui berbagai teori yang membangun pemikiran tentang etika lingkungan hidup (J. Sudriyanto, 1992:13).

    Etika Egosentris

    Etika yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu (self). Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim bahwa yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika egosentris bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih didasarkan pada filsafat yang menitikberatkan pada individu atau kelompok privat yang berdiri sendiri secara terpisah seperti “atom sosial” (J. Sudriyanto, 1992:4)

    Inti dari pandangan egosentris ini, Sonny Keraf (1990:31) menjelaskan:

    Bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri

    Dengan demikian, etika egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia sebagai pelaku rasional untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”. Hal ini didasarkan pada berbagai pandangan “mekanisme” terhadap asumsi yang berkaitan dengan teori sosial liberal.

    1. Pengetahuan mekanistik didasarkan pada asumsi bahwa segala sesuatu merupakan bagian yang berdiri sendiri secara terpisah. Atom-atom merupakan komponen riil dari alam. Begitu juga manusia yang merupakan komponen riil dari masyarakat.
    2. Keseluruhan adalah penjumlahan dari bagian-bagian. Hukum identitas logika (A=A) mendasari penggambaran alam secara matematis. Demikian pula masyarakat, yang tidak lain merupakan penjumlahan dari banyak pelaku rasional individu.
    3. Mekanisme mempunyai asumsi bahwa banyak sebab eksternal berlaku dalam berbagai bagian internal. Serupa dengan masyarakat, hukum dan berbagai aturan yang dipaksakan oleh penguasa akan ditaati oleh rakyat secara positif.
    4. Perubahan dapat terjadi dengan cara menyusun kembali bagian-bagiannya. Bangunan tuntutan masyarakat ditentukan oleh bagian-bagiannya.
    5. Ilmu mekanis selalu dualistik, seperti, pengetahuan mekanis menempatkan bagian individu sebagai komponen utama dalam pembangunan timbul korporat. Etika egosentris menempatkan manusia sebagai individu paling utama dalam pembangunan lingkungan sosial (J. Sudriyanto, 1992:15).
    Halaman selanjutnya

    AUTHOR

    aprillins # Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

    Artikel Terkait

    • Seminar Skripsi: Sebuah Pembantaian
    • Jangan Pedulikan Pemanasan Global! Pedulikan Bumi!
    • Teori Etika Lingkungan Biosentrisme
    • 2 Teori Etika: Utilitarisme dan Deontologi
    • Lingkungan Khusus Sebagai Pertimbangan Etis
    • Pentingnya Etika Bagi Kehidupan
    • Ekosentris, Ekologi, dan Ekosistem

    10 tanggapan untuk “Tiga Teori Etika Lingkungan: Egosentris, Homosentris, dan Ekosentris”

    1. hendrik
      April 12th, 2010 at 18:10 | #1
      Reply | Quote

      :wink:
      keren banget thankx y . . .
      udh ngebantu banget

    2. meong
      April 13th, 2010 at 19:45 | #2
      Reply | Quote

      thanks ya… jadi salah satu dafpus paperku nihh :-D

    3. jibrani
      April 17th, 2010 at 07:46 | #3
      Reply | Quote

      :twisted: sip

    4. Muna
      May 11th, 2010 at 16:19 | #4
      Reply | Quote

      Keren .saya jdi lebih tau.thak’s

    5. wan
      May 12th, 2010 at 12:07 | #5
      Reply | Quote

      jelas padat dan terpahami…
      cantex bgtzz 8)

    6. susi
      May 15th, 2010 at 08:27 | #6
      Reply | Quote

      q sgt stju dgn hal sperti ini agr org sdar akn pntngya lingkngan

    7. Ridwan
      June 9th, 2010 at 19:38 | #7
      Reply | Quote

      Bgus artikel.a n ckp jlas

    8. lee
      July 30th, 2010 at 12:04 | #8
      Reply | Quote

      Bagaimana dengan Bunda Theresa dari Calcutta yang terkenal itu Pak?
      Atau Mahatma Gandhi? Orang-orang “besar” ini adalah Black Swan dalam paham egosentris Sony Keraf, mereka Altruist..
      Manusia adalah salah satu jenis komponen dari sekian yang tak terhitung berada di”dalam” Alam. Dan dari perspektif makronya, korporat sekarang membentuk individu. Solusi krisis ekologi dalam waktu yang sempit ini memerlukan Common Sense yang kuat untuk merubah paradigma!
      Paradigma berubah, definisi berubah, metode berubah, dan prilaku akan berubah…
      konklusi: manusia spiritual.
      saran praktis : Vegetarian dan hidup hemat.

    9. dewi mairuma
      August 27th, 2010 at 19:11 | #9
      Reply | Quote

      yah bagus saya sangat paham dengan artikel di oleh bapak saya harap artikel ini daapat menambah wawasan saya

    10. AGUSTINA MILKA EMAURIT
      August 27th, 2010 at 19:16 | #10
      Reply | Quote

      saya mengrti bgetz

    Silakan memberi tanggapan

    Batalkan memberi komentar

    Kategori Artikel

    • Aksiologi
    • Epistemologi
    • Etika
    • Etika Bisnis
    • Etika Lingkungan
    • Etika Politik
    • Etika Teknologi
    • Filsafat Agama
    • Filsafat Kebudayaan
    • Filsafat Ketuhanan
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Kontemporer
    • Filsafat Manusia
    • Filsafat Pendidikan
    • Filsafat Politik
    • Filsafat Sosial
    • Filsuf
    • Kontemplasi
    • Kosmologi
    • Metafisika
    • Sejarah Etika

    Artikel Terbaru

    • Teori Koresponden: Ujian Persamaan dengan Fakta
    • 8 Prinsip Postulat Ilmiah, Aksioma, dan Konsep
    • Common Sense, Subjektivisme dan Objektivisme
    • Pandangan Objektivisme dan Subjektivisme Ekstrim Akan Gagal
    • Menanggapi Persoalan Moral dan Budaya dari Attayaya
    • Gottfried Wilhelm Leibniz – Doktor Pada Usia 20 Tahun
    • Rene Descartes – Rasional dan Skeptisisme
    • David Hume – Skeptisisme dan Empirisme
    • Teori Kebenaran Menurut William James
    • Aurellius Augustinus Hipponensis Antara Kristen dan Filsafat
    Aprillins © 2008-2010 | aprillins.com powered by Advanced Wordpress
    All content are protected. Copying are limited by showing a link in your bibliography
    TopOfBlogs