2 Teori Etika: Utilitarisme dan Deontologi

Salah satu cabang filsafat yaitu filsafat moral. Tampaknya filsafat moral tidak begitu lazim terdengar di telinga dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari jarang sekali yang menyebut filsafat moral tetapi etika. Benar, nama lain dari filsafat moral adalah etika. Jadi tidak usah dibingungkan dengan apa perbedaan filsafat moral dengan etika karena perbedaannya hanya terletak pada tulisannya saja. Pada tulisan sebelumnya sudah dibedakan antara etika dengan etiket, jadi silakan terlebih dahulu membaca Definisi Etika: Pengenalan Terhadap Filsafat Moral.

Ada 2 teori besar etika yang harus diketahui dan dipelajari terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kasus nyata yang erat dengan persoalan etika. Pembelajaran teori etika terlebih dahulu berguna untuk memperoleh kemudahan dalam mengupas persoalan etika. Jadi akan tahu betul teori etika apa yang sebaiknya digunakan untuk meninjau suatu kasus.

Utilitarisme

Teori ini menjadi terkenal sejak disistematisasikan oleh filsuf Inggris bernama John Stuart Mill dalam bukunya yang berjudul On Liberty. Sesuai dengan namanya utilitarisme berasal dari kata utility dengan bahasa latinnya utilis yang artinya “bermanfaat”. Teori ini menekankan pada perbuatan yang menghasilkan manfaat, tentu bukan sembarang manfaat tetapi manfaat yang paling banyak membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Dikaitkan dengan demokrasi tampaknya teori ini erat kaitannya. Dalam pemilihan suara pada Pemilihan Umum (PEMILU) suatu negara yang menganut asas demokrasi, calon presiden dengan suara terbanyak adalah presiden yang memenangkan pemilu. Meski pun perbandingannya hanya 49% dengan 51% tetap saja calon yang memperoleh suara terbanyak akan menang. Demikian pula dengan implementasi utilitarisme

Meski pun sudah dialami manfaat dari utilitarisme bukan berarti utilitarisme secara teoritis tidak memiliki masalah. Jika semua yang dikategorikan sebagai baik hanya diperoleh dari manfaat terbanyak bagi orang terbanyak, maka apakah akan ada orang yang dikorbankan? Anggap saja ada anjing gila, anjing tersebut suka menggigit orang yang lewat. 7 dari 10 orang menyarankan anjing tersebut dibunuh sedangkan 3 lainnya menyarankan dibunuh. Penganut utilitarisme akan menjawab tentu yang baik jika anjing itu dibunuh. Lalu saran 3 orang tadi dikemanakan? Apakah mereka harus menerima itu begitu saja? Kalau menurut teori ini YA.

Kasus di atas hanyalah sebatas anjing bagaimana jika manusia? Bukan tidak mungkin hal ini terjadi bahkan sudah terjadi, tentu dalam perkembangan peradaban ada sejarah diskriminasi ras mau pun etnis. Kasus diskriminasi ras kulit hitam dan diskriminasi etnis Tionghoa sebelum tahun 1997 tampaknya tidak terdengar asing lagi di telinga. Salah satu sebab mereka didiskriminasikan karena mereka minoritas, dan mayoritas berhak atas mereka. Oleh utilitarisme hal ini dibenarkan selama diskriminasi membawa manfaat.

Dibalik kengerian dari aplikasi teori utilitarisme ini, ada pula hal yang melegakan. Salah satunya adalah ketika berkenaan dengan bisnis dan keuangan. Perhitungan ala utilitaris ini dapat berlaku sebagai tinjauan atas keputusan yang akan diambil. Mengingat dalam keuangan yang ada kebanyakan adalah angka-angka, jadi keputusan dapat diambil secara mudah berdasarkan jumlah terbanyak bagi manfaat terbanyak.

Teori ini juga dikatakan sebagai konsekuensionalisme karena segala keputusan diambil atas tinjauan konsekuensi. Konsekuensi paling menguntungkan adalah konsekuensi yang akan diambil.

Deontologi

Teori deontologi sebenarnya sudah ada sejak periode filsafat Yunani Kuno, tetapi baru mulai diberi perhatian setelah diberi penjelasan dan pendasaran logis oleh filsuf Jerman yaitu Immanuel Kant.

kata deon berasal dari Yunani yang artinya kewajiban. Sudah jelas kelihatan bahwa teori deontologi menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban berarti sudah melakukan kebaikan. Deontologi tidak terpasak pada konsekuensi perbuatan, dengan kata lain deontologi melaksanakan terlebih dahulu tanpa memikirkan akibatnya. Berbeda dengan utilitarisme yang mempertimbangkan hasilnya lalu dilakukan perbuatannya.

Lalu apa itu kewajiban menurut deontologi? Sulit untuk mendefinisikannya namun pemberian contoh mempermudah dalam memahaminya. Misalnya, tidak boleh menghina, membantu orang tua, membayar hutang, dan tidak berbohong adalah perbuatan yang bisa diterima secara universal. Jika ditanya secara langsung apakah boleh menghina orang? Tidak boleh, apakah boleh membantu orang tua? Tentu itu harus. Semua orang bisa terima bahwa berbohong adalah buruk dan membantu orang tua adalah baik. Nah, kira-kira seperti itulah kewajiban yang dimaksud.

Jika dibandingkan dengan utilitarisme coba perhatikan lagi contoh anjing yang akan dieksekusi karena voting terbanyak mengatakan demikian. Dalam deontologi tidak demikian, jumlah terbanyak bukanlah ukuran yang menentukan kebaikan tetapi prinsiplah yang menentukan yaitu prinsip bahwa pembunuhan adalah perbuatan buruk dan bagaimana pun juga anjing itu tidak boleh dibunuh.

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Berkecimpung dalam bidang filsafat sekaligus menekuni web programming sebagai tambahan. Suka membaca buku lalu merenungkannya dan mengaplikasikan hasilnya :)

Artikel Terkait

17 tanggapan untuk “2 Teori Etika: Utilitarisme dan Deontologi”

  1. saniah
    April 9th, 2010 at 17:23 | #1

    teori ini terlalu umum, padahal etika kan bersifat khusus

  2. Era
    October 29th, 2010 at 16:29 | #2

    di balik kebaikan dri utilitarisme ad ktidak adilan di stu, karna teori utilitarisme hxa mnganggap yg trbanyak adlah yg trbaik,, trus yg sdkit di kmnkan meskipun !tu jga baik.

  3. ariel
    November 26th, 2010 at 08:53 | #3

    deontologi..
    jika deontologi benar, maka pembunuhan dilakukan dgn motif apapun, akan bernilai salah.
    seandainya anda terdesak akan di bunuh seorang perampok yang sadis, dan pisau tersebut hampir menusuk kepala anda, jaraknya sudah sekitar 5 cm dari kepala anda..
    jika anda tidak segera membunuh perampok seketika itu juga, bayangkan anda terlambat 1 atau 2 detik saja. maka anda pasti sudah mati..

    bisakah anda membantu, menurut anda teori etika yg mana yg benar dan universal?

  4. January 15th, 2011 at 00:43 | #4

    Tulisan yang menarik, kebetulan saya juga lagi membutuhkanya. terima kasih banyak

  5. farah
    March 26th, 2011 at 11:57 | #5

    waa thanks bgt y,,,infony mmprmudah saya dlm mngrjakan tgs,,

  6. frans
    March 27th, 2011 at 21:37 | #6

    artikelnya bagus banget ..
    pas dan sangat jelas

  7. retno
    April 7th, 2011 at 08:49 | #7

    thanks yaa lagi quiz jadi selesai dehh quiznya..
    Ehhehehehe

  8. dssp
    May 30th, 2011 at 12:52 | #8

    padahal utilitarianisme mill nggak sebatas itu, masih ada aturan2 umum yang prinsipil yang masih dipegang!

  9. susi
    June 14th, 2011 at 12:24 | #9

    Utilitarisme…… ok deh tuk perkembangan ilmu pengetahuan pada era reformasi ini, agar…… semua tindakan bisa bermanfaattttt n…. kebetulan lagi butuh info ini, tks berattt..

  10. August 5th, 2011 at 01:37 | #10

    Saya fikir deontologi itu suat teori yang harus di terima oleh khalayak umum ya.., dan ini jg hampir mirip sm sufistik……nah kwajiban inilah mnjadi modal dasar dan inilah senjata bagi penganut deontologi, masalah konsekuensi yang akan di tanggung, itu semua kan tergantung kewajibannya logisnya begitu………

  11. fellicia
    August 27th, 2011 at 14:42 | #11

    ey temen2…. yg buka ini tolong ya bantu informasi ttg deontology ini ada diayat apa saja beserta cth2nya ???
    helppppppppp meeee!
    trims yah … lg perlu info ak ..

  12. richalrina egon gbz
    October 7th, 2011 at 19:39 | #12

    neh TugaZ Yg PaliNg MnguRaz TEnaGA tenTang zMwa TEori….

  13. ambrosius Bille
    May 10th, 2012 at 09:10 | #13

    Bagi mereka: Melakukan kewajiban itu sama dengan melakukan kebaikan. Misalnya jangan mencuri adalah suatu kewajiban yang harus diikuti dan memang itu baik. Pertanyaannya : bagaimana jika apa yang menjadi kebahagiaan orang lain itu, bukanlah kewajiban saya. Jika demikian, bila ada orang yang menderita di jalan dan sangat butuh bantuan, saya tidak mau menolong dia karena itu bukanlah kewajiban saya karena ada urusan yang lbh pnting,… Kelemahannya adalah terlalu kaku dengan aturan dan tidak bisa terbuka untuk berbuat baik pada situasi yang alain….

  14. holang odorikus
    August 30th, 2012 at 10:46 | #14

    sy ska teori utilitarisme tetapi bkan tidk mungkin ada kelemahannya…konsep ini basisnya pada kesejahteraan umum tapi secara personal tidak diperhatikan. jdi kelemahannya banyak dipraktikkan di indonesia.

  15. rifa
    May 19th, 2013 at 09:46 | #15

    mksiiih banyak yaaa tlisannya ngbantuu bgt

  16. sandi
    January 26th, 2014 at 16:57 | #16

    kalo untuk kekuatan dan kelemahan dri kedua teori itu apa ya ?
    mhon di share lgi.

  17. getrudis
    March 7th, 2014 at 16:15 | #17

    tulisan yang sangat membnatu kmi yg sdang mmpelajari etika bisnis.. trima kasih banyak ya..

Silakan Beri Komentar