Langganan artikel
  • Home
  • Rekan
  • Layanan
  • Advertising
  • Informasi Situs
    • Privacy Policy
    • Pranala Luar
  • Lowongan
Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

Makna “Kita! Lo aja Kali!” Dari Sudut Pandang Filsafat Politik

13 October 2011 10:10 AM - oleh Neko Ada 7 tanggapan

Sangat menarik jika kita memperhatikan logika bahasa dalam bahasa Indonesia belakangan ini. Suatu istilah guyonan baru muncul begitu saja di tengah dunia kita. Istilah ini sepertinya dimulai dari kaum muda dilihat dari struktur bahasa dan jenis bahasanya yang condong ke bahasa gaul. “Kita? Lo Kali?”

Istilah ini jika diperhatikan sangat menarik karena ini sangat berguna ketika kita berada dalam sebuah diskusi. Dalam sebuah diskusi, seringkali seseorang mereferensi diri sebagai “kita”. Menggunakan kata kita dalam sebuah rapat misalnya seakan mewakilkan diri sebagai suara dari mayoritas. Kita sebagai suku, kita sebagai bangsa, kita sebagai kelompok. Kata kita merupakan kata yang bisa mencakup saya dan kamu, namun bisa juga menegasikan kamu sebagai bagian dari kita.

Kadang menjengkelkan ketika kita melihat seseorang mereferensi diri sebagai kita. Seakan-akan orang-orang telah direduksi pendapatnya dan opininya menjadi bagian dari sebuah kelompok. Suara itu menjadi suara yang mewakilkan secara keseluruhan. Baik apabila pendapat-pendapat itu memang sama, apabila tidak?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan. Kita menganut prinsip gotong-royong artinya melakukan segala sesuatu bersama. Ini adalah nilai yang luhur dan sangat menarik dalam kebudayaan kita. Namun demikian saya lumayan tidak senang kalau prinsip macam ini selalu dilakukan. Seperti ronda, seindah apapun itu, rasanya satpam jauh lebih rapi. Belum lagi prinsip musyarawarah mufakat, dimana suatu keputusan yang diambil harus memuaskan semua pihak. Padahal bisa jadi suara yang didapat hasil aklamasi dimana suara mayoritas dikalahkan suara-suara vokal. Keputusan yang parsial kemudian diungkapkan sebagai universal.

Tapi menurut saya kesadaran individualistis mulai muncul, terutama di kalangan mudanya. Berkat pendidikan dan informasi di segala segi, masyarakat indonesia semakin terpapar oleh pola pikir barat. Pola pikir yang tidak selamanya buruk.

Ketika kita merasa bahwa seseorang menjadikan pendapatnya umum dan mewakili keseluruhan, padahal itu pendapat pribadi yang tak semua orang setuju. Anda bisa bilang “Kami!? Lo aja kali!!”


Tweet

AUTHOR

Neko # Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Artikel Terkait

  • Penggunaan dan Arti Kata “Menggurita”
  • Manusia dan Bahasa Bunga
  • Manusia Sebagai Makhluk Berbahasa
  • 8 Prinsip Postulat Ilmiah, Aksioma, dan Konsep
  • Minitrip TK Budya Wacana: Bahasa Inggris Lewat Pembelajaran Alam
  • Emosi Gara-gara Pembawa Berita di Indosiar

7 tanggapan untuk “Makna “Kita! Lo aja Kali!” Dari Sudut Pandang Filsafat Politik”

  1. bennie_serverx
    November 7th, 2011 at 23:48 | #1
    Reply | Quote

    Wahhh… Kasihan deh yang ciptain bahasa Indonesia kalo dah pada rancu… kebanyakan kosakata prokem… yang sudah mulai masuk ke jalur pendidikan non formal atau kursus…

    Sekalian bagi info gan tentang software pulsa yang gratissss!!
    http://kiossoftwarepulsa.com/index.php/download-demo/
    Monggo diseeeedot, dan dibagikan buat yang lainnya Gan…

  2. Sriyono Smg
    November 13th, 2011 at 07:12 | #2
    Reply | Quote

    seringkali banyak kalimat yang gramatically ancur dah, pada merusak bahasa neh…

  3. Mengatasi Rambut Rontok
    November 13th, 2011 at 13:11 | #3
    Reply | Quote

    Saya setuju penggunaan kata kata santai pada bahasa sehari hari karena memberikan rasa rileks dan santai. Tetapi untuk penulisan harusnya menggunakan lebih bahasa yang baku….

  4. Tri astono Taufiq
    February 3rd, 2012 at 11:47 | #4
    Reply | Quote

    Kita??? Lo aja kali…

  5. will
    March 4th, 2012 at 15:32 | #5
    Reply | Quote

    yg pasti mudah dmngerti dn tidak mnjdkn pengetian ganda at lebih…;))

  6. agen ace maxs padang
    December 7th, 2012 at 10:51 | #6
    Reply | Quote

    wuaahh ya fenomena fenomena bahasa seperti itu yang sekarang musim di kalangan muda

  7. ace maxs
    March 1st, 2013 at 14:09 | #7
    Reply | Quote

    wahh batu nih, jadi begitu tuh maknanaya. makasih banyak infonya.. ane berui tau nih, lumayan dapet wawasan baru nih berkunjunga kemari..

Berikan tanggapan Anda

Batalkan memberi komentar

Kategori Artikel

  • Aksiologi
  • Epistemologi
  • Etika
  • Etika Bisnis
  • Etika Lingkungan
  • Etika Politik
  • Etika Teknologi
  • Filsafat Agama
  • Filsafat Cina
  • Filsafat Kebudayaan
  • Filsafat Ketuhanan
  • Filsafat Kontemporer
  • Filsafat Kontemporer
  • Filsafat Manusia
  • Filsafat Pendidikan
  • Filsafat Politik
  • Filsafat Sosial
  • Filsuf
  • Kontemplasi
  • Kosmologi
  • Metafisika
  • Ontologi
  • Sejarah Etika

Artikel Terbaru

  • Kesunyian, Kesendirian, dan Kegilaan
  • Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?
  • Makna “Kita! Lo aja Kali!” Dari Sudut Pandang Filsafat Politik
  • Haters: Sebuah Fenomenon Kelahiran Si Tukang Benci
  • Permasalahan Lupa dan Ingatan Manusia
  • Kegunaan dan Hakikat Angka Nol
  • Rumah Perlindungan Bagi Bayi Terbuang Setuju atau Tidak?
  • Makna Pembunuhan Karakter
  • Filsafat Kacamata
  • Dari Facebook Democracy Sampai Internet Mobokrasi
  • Permasalahan Ingatan Tinjauan Epistemologi
  • Makna Peribahasa Katak Dalam Tempurung
  • Penggunaan dan Arti Kata “Menggurita”
  • Tembok-Tembok Ciptaan Manusia
  • Paradoks Kebenaran dengan Contoh Plato dan Socrates
  • Manusia dan Obsesi Mereka Terhadap Kecepatan
  • Hubungan Antara Cinta, Otak dan Kesadaran
  • Apakah Internet Membuat Kita Bodoh?
  • Jarak Pandang dan Permasalahan Filsafat yang Rumit
  • Hubungan Antara Blackberry dan Budaya Gengsi di Indonesia
  • Kenapa Mencontek Dapat Merugikan Kita?
  • John Doe dan Identitas Manusia
  • Jika Kita Dilahirkan Dalam Budaya yang Berbeda?
  • Manusia dan Rekayasa Alam
  • Rasionalisme Hukum Indonesia
  • Cuci Otak: Mengontrol Pikiran Manusia
  • Epistemologi Tentang Warna dan Persepsi Indra
Aprillins © 2008-2012
All content are protected. Copying are limited by showing a link in your bibliography
TopOfBlogs