Langganan artikel
  • Home
  • Rekan
  • Layanan
  • Advertising
  • Informasi Situs
    • Privacy Policy
    • Pranala Luar
  • Lowongan
Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

Haters: Sebuah Fenomenon Kelahiran Si Tukang Benci

15 September 2011 05:09 PM - oleh Neko Ada 3 tanggapan

Dalam dunia internet sekarang ini kita menemukan sebuah fenomena yang bernama Haters. Fenomena ini disebut sebagai fenomena tukang benci. Biasanya ini merebak pada suatu yang populer dan dalam dunia entertainment. Walau saya menduga bahwa hal ini tidak terbatas pada masalah entertainment saja. Saya juga menduga bahwa fenomena ini tidak muncul sekarang saja, bisa jadi hal ini sudah ada sejak dahulu kala, seperti banyak hal.

Haters adalah sekelompok orang yang sangat berdedikasi dalam membenci sesuatu. Dedikasi dan niat sangat diperlukan. Ini karena dengan membenci sesuatu saja tidak cukup untuk menjadi haters. Jika demikian seseorang yang sekedar tidak suka dan menyimpannya dalam hati tidak bisa dikatakan dalam tahap benci. Lebih kepada tidak suka secara sewajarnya. Jika suatu acara tidak disukai maka dia cukup dengan tidak melihatnya atau setidaknya memperingatkan orang-orang lain untuk tidak menonton acara itu karena acara itu sangat buruk.

Ekspresi kebencian secara publik

Haters berusaha lebih dari itu. Dia mengekspersikan kebenciannya di muka umum, membentuk grup bahkan web yang berdedikasi untuk membenci. Kesungguhan dan dedikasi mereka menjadikan mereka haters sejati. Mereka juga mengekspersikan ketidaksukaannya secara vulgar. Seperti halnya Fans maka kebalikan mereka adalah Haters. Sumber kebencian mereka kadangkala tidak rasional. Mereka kadang menggunakan argumen-argumen yang tidak masuk akal dan kata-kata mereka bertujuan untuk menyakiti.

Yang mengagumkan mereka bisa membuat kelompok yang cukup baik. Bahkan memiliki alamat web sendiri. Ini bukanlah hal yang baru. Kebencian merupakan salah satu alat yang kuat dalam mempersatukan orang. Orang bisa berkumpul dalam kesuakaannya terhadap sesuatu maka begitu pula dengan benci.

Kebencian bisa membuat kelompok lebih solid. Kelompok yang memiliki musuh bersama memiliki tingkat solidaritas yang lebih tinggi sebagai kelompok. Di dalam kelompok ini seseorang menjadi sesuatu bagian dari massa kelompok pembenci.


Tweet

AUTHOR

Neko # Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Artikel Terkait

  • Pembagian Manusia dalam Pandangan Plato

3 tanggapan untuk “Haters: Sebuah Fenomenon Kelahiran Si Tukang Benci”

  1. Restsindo – hty
    October 6th, 2011 at 16:05 | #1
    Reply | Quote

    Rasa benci – Rasa cinta dan kasih sayang; rasa duka – rasa cita; rasa senang dan bahagia bersumber dari satu tempat yaitu hati.

    Di hati terdapat 2 sekat yaitu sekat positf yang berisi segala kebahagiaan dan sejenisnya; serta sekat negatif yang berisi kesedihan dan yang lainnya.

    Bahkan jika seluruh alam semesta dimasukkan kedalam hati yang hanya segenggam sebarnya masih terdapat lubang / ruang kosong di dalamnya. Itulah fenomena hati manusia.

    Segala sumber kebaikan dan kejahatan bersumber dari sang hati ini.

  2. Sekolah Musik
    November 14th, 2011 at 21:17 | #2
    Reply | Quote

    Saya yakin yang ikut dalam the Haters hanya buang buang waktu saja. Buat apa hidup hanya membenci sesuatu, yang lebih baik adalah menikmati hidup dan rukun. Sangat mudah untuk mencari musuh dan sangat sulit untuk mencari sahabat

  3. xamthone
    January 16th, 2012 at 15:20 | #3
    Reply | Quote

    Mau hidup tentram ??/
    nyaman ??
    penuh keindahan ??
    kuncinya adalah jangan pernah menaruh perasaan benci apalagi sama sesama …

Berikan tanggapan Anda

Batalkan memberi komentar

Kategori Artikel

  • Aksiologi
  • Epistemologi
  • Etika
  • Etika Bisnis
  • Etika Lingkungan
  • Etika Politik
  • Etika Teknologi
  • Filsafat Agama
  • Filsafat Cina
  • Filsafat Kebudayaan
  • Filsafat Ketuhanan
  • Filsafat Kontemporer
  • Filsafat Kontemporer
  • Filsafat Manusia
  • Filsafat Pendidikan
  • Filsafat Politik
  • Filsafat Sosial
  • Filsuf
  • Kontemplasi
  • Kosmologi
  • Metafisika
  • Ontologi
  • Sejarah Etika

Artikel Terbaru

  • Kesunyian, Kesendirian, dan Kegilaan
  • Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?
  • Makna “Kita! Lo aja Kali!” Dari Sudut Pandang Filsafat Politik
  • Haters: Sebuah Fenomenon Kelahiran Si Tukang Benci
  • Permasalahan Lupa dan Ingatan Manusia
  • Kegunaan dan Hakikat Angka Nol
  • Rumah Perlindungan Bagi Bayi Terbuang Setuju atau Tidak?
  • Makna Pembunuhan Karakter
  • Filsafat Kacamata
  • Dari Facebook Democracy Sampai Internet Mobokrasi
  • Permasalahan Ingatan Tinjauan Epistemologi
  • Makna Peribahasa Katak Dalam Tempurung
  • Penggunaan dan Arti Kata “Menggurita”
  • Tembok-Tembok Ciptaan Manusia
  • Paradoks Kebenaran dengan Contoh Plato dan Socrates
  • Manusia dan Obsesi Mereka Terhadap Kecepatan
  • Hubungan Antara Cinta, Otak dan Kesadaran
  • Apakah Internet Membuat Kita Bodoh?
  • Jarak Pandang dan Permasalahan Filsafat yang Rumit
  • Hubungan Antara Blackberry dan Budaya Gengsi di Indonesia
  • Kenapa Mencontek Dapat Merugikan Kita?
  • John Doe dan Identitas Manusia
  • Jika Kita Dilahirkan Dalam Budaya yang Berbeda?
  • Manusia dan Rekayasa Alam
  • Rasionalisme Hukum Indonesia
  • Cuci Otak: Mengontrol Pikiran Manusia
  • Epistemologi Tentang Warna dan Persepsi Indra
Aprillins © 2008-2012
All content are protected. Copying are limited by showing a link in your bibliography
TopOfBlogs